4/06/2014

Bangku Usang


Bangku usang itu pernah berkata kepadamu, bahwa aku mencintaimu.

Ukirannya masih tetap sama, hanya waktu yang menemani-nya kala itu tidak lagi disana. Entah kemana, tetapi waktu telah menggiring-ku hingga kini.

Bangku usang itu pernah bercerita kepadaku, bahwa kamu juga mencintaiku.

Retaknya pun masih sama ketika ia bertutur kepadaku, hanya kamu yang aku cinta tidak lagi bersama-ku.Entah mengapa, tetapi kamu terindah hingga kini.

Bangku usang itu kini bersedih, Ia meneteskan air dari mata. Ia memaki tubuhku bahkan ia sempat memarahkan-mu. Ia bertanya ; “Mengapa harus ada perpisahan?”

. Aku melihat-nya-Aku melihatmu.


Masih terlalu hangat melekat. Jemarimu masih jelas menapak di telapak tanganku. Tanda kelahiran di tanganmu bahkan masih ku-hafal setiap bentuknya. Nama-mu belum runtuh, masih berdiri megah layaknya istana permaisuri-ku. Serdadu yang kutemui dalam peperangan hanya mampu melepaskan senyum. Panahnya tumpul. Namun mata-mata yang menghiasiku itu mampu membiusku, tatapan-nya sama seperti kamu menatapku. Sangat dalam. Ada sesuatu yang Ia selami di tubuhku, seperti waktu kamu menyelami-ku.Sangat dalam. Entah apa yang Ia selami dariku. Aku melihat-nya.Aku merasa melihatmu.

3/15/2014

Ketika


Ketika jari-jari kita bersentuhan dalam sebuah malam, mencengkram erat saling terikat pada sebait rasa memiliki
Aku ingat pada saat ibu jari dan bapak jari bergulat dan anak jari-jari kita hanya bisa menyaksikan dan tidak mengerti apa yang ibu dan bapak jarinya lakukan.
Mungkin kenangan tidak terlalu berharga untuk-ku, tetapi waktu pada kenangan itu yang akan berharga. Percayalah waktu tak akan kembali berputar menghampirimu dan duduk berbincang disampingmu berbicara tentang kenangan bahkan kenangan akan berbicara tentang waktu itu dan berdiskusi disampingmu.

Ketika rasa sesal di dasar hati diam tak mau pergi. Ia seperti menggodamu untuk kembali. Merayu menjamu bahkan memujamu. Bukan tidak mau untuk kembali, tetapi darah belum berhenti menetes bahkan masih lebat seperti hujan yang membuatmu pergi dan menghilang. Aku terlalu hafal hingga Aku terlalu lupa. Detik demi detiknya. Rapuhnya ranting pohon menopang daun untuk tetap menari. Ini bukan salahmu dan aku tidak menyalahkanmu. Mungkin aku terlalu bodoh. Tidak seharusnya kita terombang-ambing dalam pusara yang sama.

Dan satu yang akhirnya kita tahu bahwa CINTA bukan selembar perizinan untuk bertindak bodoh. Ia seharusnya bisa bertindak mencerdaskan.  

2/06/2014

ANOMALI

Ia menetes seperti pisau menikam tubuh gagahku.
Ia menerpa selayaknya serpihan kaca menghantam wajahku dengan penuh amarah, entah dendam~ entah amarah... aku pun tidak tahu buih hatinya.
Entah siapa yang bodoh, tetapi mataku selalu terbuai tipu muslihat keji dirinya.
Hadir dengan segenggam madu rindu, pergi meninggalkan sebongkah racun pilu.
Aku Perkasa. Pecundang yang tersisa.

Anomali...

12/29/2013

Dogma

aku menguap kemudian meluap
aku mengerak tanpa gerak
aku layu kemudian membeku

rindu adalah sebait puisi yang dihembuskan angin kepadamu dari aku yang merindu
cinta adalah selarik pusi yang disenandungkan pujangga kepadamu dari aku yang mencinta

aku adalah korban dogma kebodohan. tetapi maaf aku merindumu. tetapi maaf aku mencintaimu.