Ketika jari-jari kita bersentuhan dalam sebuah
malam, mencengkram erat saling terikat pada sebait rasa memiliki
Aku ingat pada saat ibu jari dan bapak jari
bergulat dan anak jari-jari kita hanya bisa menyaksikan dan tidak mengerti apa
yang ibu dan bapak jarinya lakukan.
Mungkin kenangan tidak terlalu berharga untuk-ku,
tetapi waktu pada kenangan itu yang akan berharga. Percayalah waktu tak akan
kembali berputar menghampirimu dan duduk berbincang disampingmu berbicara
tentang kenangan bahkan kenangan akan berbicara tentang waktu itu dan
berdiskusi disampingmu.
Ketika rasa sesal di dasar hati diam tak mau
pergi. Ia seperti menggodamu untuk kembali. Merayu menjamu bahkan memujamu.
Bukan tidak mau untuk kembali, tetapi darah belum berhenti menetes bahkan masih
lebat seperti hujan yang membuatmu pergi dan menghilang. Aku terlalu hafal
hingga Aku terlalu lupa. Detik demi detiknya. Rapuhnya ranting pohon menopang
daun untuk tetap menari. Ini bukan salahmu dan aku tidak menyalahkanmu. Mungkin
aku terlalu bodoh. Tidak seharusnya kita terombang-ambing dalam pusara yang
sama.
Dan satu yang akhirnya kita tahu bahwa CINTA
bukan selembar perizinan untuk bertindak bodoh. Ia seharusnya bisa bertindak
mencerdaskan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar