3/15/2014

Ketika


Ketika jari-jari kita bersentuhan dalam sebuah malam, mencengkram erat saling terikat pada sebait rasa memiliki
Aku ingat pada saat ibu jari dan bapak jari bergulat dan anak jari-jari kita hanya bisa menyaksikan dan tidak mengerti apa yang ibu dan bapak jarinya lakukan.
Mungkin kenangan tidak terlalu berharga untuk-ku, tetapi waktu pada kenangan itu yang akan berharga. Percayalah waktu tak akan kembali berputar menghampirimu dan duduk berbincang disampingmu berbicara tentang kenangan bahkan kenangan akan berbicara tentang waktu itu dan berdiskusi disampingmu.

Ketika rasa sesal di dasar hati diam tak mau pergi. Ia seperti menggodamu untuk kembali. Merayu menjamu bahkan memujamu. Bukan tidak mau untuk kembali, tetapi darah belum berhenti menetes bahkan masih lebat seperti hujan yang membuatmu pergi dan menghilang. Aku terlalu hafal hingga Aku terlalu lupa. Detik demi detiknya. Rapuhnya ranting pohon menopang daun untuk tetap menari. Ini bukan salahmu dan aku tidak menyalahkanmu. Mungkin aku terlalu bodoh. Tidak seharusnya kita terombang-ambing dalam pusara yang sama.

Dan satu yang akhirnya kita tahu bahwa CINTA bukan selembar perizinan untuk bertindak bodoh. Ia seharusnya bisa bertindak mencerdaskan.