10/27/2013

Jangan Salahkan

Jangan salahkan...

Jangan salahkan aku
Jika aku tertarik pada kamu,
karena kamu memang menarik aku

Jangan salahkan bibir aku
Jika bibir aku menarik bibir kamu,
karena bibir kamu memang menarik bibir aku

Jangan salahkan mata aku
Jika mata aku menarik mata kamu,
karena mata kamu memang menarik mata aku

Jangan salahkan tangan aku
Jika tangan aku menarik tangan kamu,
karena tangan kamu memang menarik tangan aku

Jangan salahkan hati aku
Jika hati aku menarik hati kamu,
karena hati kamu memang menarik hati aku

Jangan salahkan angkara 
Jika angkara memilih menarik kamu,
karena kamu memang menarik angkara

10/21/2013

Relativitas

Entah mengapa semua tulisanku tertuju padamu. Entah mengapa hanya kamu yang mengisi ruang dalam pikiranku. Entahlah. Mungkin kamu terjebak di dalam atau aku yang selalu memikirkanmu. Mungkin inilah CINTA atau mungkin memang aku sedang sedang jatuh CINTA. Hal yang bisa merubah apa saja, termasuk aku dan kamu, termasuk kita, termasuk persahabatan kita yang mampu dirubah oleh CINTA.

Ku dapati diri makin tersesatSaat kita bersamaDesah nafas yang tak bisa teruskanPersahabatan berubah jadi cinta -"Sahabat Jadi Cinta", Zigaz

Namun mulutku hanya bisa diam. Diam...Diam dan diam. Ini sesuatu yang sangat sulit untuk aku jelaskan padamu. Semua hanya ada dalam pikiranku tanpa bisa aku bicarakan padamu. Mungkin kamu pun mengerti tetapi hanya nampak tidak mengerti.Mungkin kamu pun merasa tetapi hanya nampak tidak merasa

Satu kata yang sulit terucap
Hingga batinku tersiksa
Tuhan tolong aku jelaskanlah
Perasaanku berubah jadi cinta -"Sahabat Jadi Cinta", Zigaz

Aku Menyukaimu...

Mungkin hanya itu yang akan keluar dari mulutku ketika aku mampu mengatakannya padamu.
Itu berat untukku. Itu sulit untuk bibirku. Itu rumit untuk persahabatan ini. 
Pershabatanku yang tercipta sedari kecil hingga tumbuh besar, hingga kita mulai fasih mengenal suka namun terlalu awam mengenal cinta.

Aku Mencintaimu...

Mimpi...tentang mimpi-mu. Aku suka wanita pemimpi sepertimu. Kamu biarkan angan itu melayang tepat di atas kepala bersama bintang malam. Kamu selalu ceritakan harapan mimpimu di setiap malam. Di setiap malam sebelum tidur, kamu sempatkan mengirim pesan singkat kepadaku hanya tentang harapan mimpimu.

From : You                                                                                                              

I hope my dream tonight about you. about friendship. about us. about the ideals I and you are reached

I will go there, to the place I was telling you about.
And you're going to record this story in your own words are captivating me.


Hopefully tomorrow is better than today and yesterday :* ({})


*****

Aku mengerti hanya nampak tidak mengerti. Aku pun merasa hanya nampak tidak merasa.
Sudahlah. Jika kamu diam aku pun akan diam...Diam dan diam. Abaikan pikiran kita. Abaikan tentang rasa yang kamu rasa. Oh...Ternyata aku juga. Tentang rasa kita, abaikan itu !
Bagaimana kalau aku dan kamu bicara mimpi? Yaa mimpi...Mimipi aku dan kamu. Mimpi kita.

Gelap ini momentum yang tepat untuk membicarakan-nya.

Tak bisa hatiku merapikan cinta
Karena cinta tersirat bukan tersurat
Meski bibirku terus berkata tidak
Mataku terus pancarkan sinarnya -"Sahabat Jadi Cinta", Zigaz

"Look at! It's your star constellations....Aquarius" .

Aku menujukkannya padamu dengan jari manis-ku yang sabar...  

"Look at! It sparkles bright your star constellations"

*****

Kuhantarkan bak di pelataran
Hati yang temaram
Matamu juga mata mataku
Ada hasrat yang mungkin terlarang

Aku menatap batang leher putih langsatmu yang jenjang mendongak dengan wajahmu yang menatap langit. Jari manis-mu dengan sabar menunjukan *Genimedes kepadaku.
Langit nampak indah dengan senyuman bulan yang temaram di pelataran dan bulan nampak indah dengan senyuman.

Aku melihat senyummu. Senyum yang mengalir diantara rona-rona wajahmu. Semilir angin membelai rambutmmu, tersentuh oleh wajahku rambutmu yang hitam legam bergelombang sahdu. Aku ingin menyelami-nya. Menyelami hitam bahkan putihnya akan ku selami hingga akhir hayat.

*****

Apa yang kita kini tengah rasakan 
Mengapa tak kita coba persatukan 
Mungkin cobaan untuk persahabatan
Atau mungkin sebuah takdir Tuhan -"Sahabat Jadi Cinta", Zigaz

Tak terasa kamu sudah satu jam menemaniku malam ini. Satu jam ini seakan seperdetik untuk-ku. Aku ingin lebih lama. Namun waktu bergulir begitu cepat menggilir-ku untuk hari esok.
Oh...  Apa ini yang dimaksud dengan Relativitas yang dikatakan Albert Einstein?

"When you are in love, one hour will feel split second. If you sit on the rest of the people are still red and hot, the second seemed an hour, that's Relativity" -Albert Einstein-

Kamu benar paman Einstein. Jatuh cinta memang hanya perasaan yang nisbi. Hanya dengan membandingkan saja semua bisa berubah. Berubah semua perasaan yang terasa, seperti rumusmu yang mengubah dunia. Tetapi tidak untuk persahabatan, persahabatan ini tidak mengenal Relativitas-mu Sir... Persahabatan ini hanya mengenal CINTA...

Alright. It's about us. About our friendship is not about our feelings.
And let this be a love feeling my doubts...
Add caption




10/19/2013

Kau


Kau hidangkan melati,
sebelum aku mati.
Kau tusuk belati,
tikam tepat di hati.

Selepas ku mati, Kau melenggang pergi.

Lembayung Senja


Menyelinap diantara megah
Bersembunyi dibalik cerah
Hadir dengan indah
Hilang dengan gagah

10/09/2013

Cuplikan Masa Lalu


"Dia...Iya benar dia yang duduk tepat di hadapanku"

"Iya benar...Dia yang mengenakan dress motif bunga-bunga yang merekah seperti senyumnya yang indah"

*****

 Selasar kereta ini tidak terlalu ramai seperti waktu pergi atau pulang kantor. Aku tidak memilih waktu itu karena kereta commuter line terlalu sibuk dan padat mengangkut penumpang yang sibuk dengan belbagai masalah di ransel punggungnya.

 Hari ini aku ingin ke Bogor. Kamu tahu kan kota itu? Iya kota yang autentik dengan hujannya, Berharap Bogor tidak dengan autentik-nya hari ini...Aminn 
Aku ke Bogor ingin mengunjungi nenek-ku. Aku hanya ingin bercengkrama dengan beliau, aku rindu nenek...aku rindu senandung pelangi-nya di kala senja.

 Stasiun ini masih ramai, masih menunggu kepergian dan kedatangan. Inilah persinggahan kereta kereta disini hanya sementara. Hanya datang kemudian pergi seperti kisah percintaanku selama ini. Ahh sudahlah~Aku tidak ingin melodrama disini terlalu eksplisit aku menceritakan kisahku padamu. Kereta yang akan mengantarku belum tiba pada peron berlabuhnya masih singgah di stasiun sebelah, mungkin kereta yang akan ku tumpangi masih bermesraan dengan stasiun sebelah dan stasiun sebelah pun belum rela melepasnya begitu saja menuju stasiun ini. Itu hanya kemungkinan-ku saja tetapi kalau kamu punya kemungkinan lain silahkan dengan kemungkinan-mu. Kamu boleh berbeda denganku, tak mesti sama denganku tetapi biarkan aku dan kamu menyatu dengan ini.

*****

"Dia...Iya benar dia yang duduk di hadapanku memakai kacamata dengan bertangkai berwarna merah berkaca bening transparan"

"Iyaa benar...Dia wanita yang membawa ransel Jansports hitam bermotif bunga warna merah jambu"

*****

 Akhirnya kereta yang ku tunggu tiba pada peron berlabuhnya setelah melodrama dan tangis airmata menetes di krikil krikil tajam bantalan rel.

"Aku pergi untuk kembali. Kembali singgah padamu"
"Hanya singgah?"
"Yaa karena tugasku hanya singgah padamu peron"
"Enyahlah~ lupakan aku. Aku tidak ingin bicara padamu lagi"

 Mungkin setelah itu stasiun enggan untuk berbicara pada kereta setiap ia singgah. Itu hanya kemungkinan-ku tetapi kalau kamu punya kemungkinan lain silahkan, aku tidak ingin memaksa. Aku hanya ingin dengan kelembutan. Memaksa terkesan dengan kekerasan. Aku benci kekerasan.

 Langkah ku mulai memasuki rangkaian kereta ini. Aku masuk pada gerbong 5 semoga gerbong kenyamanan-ku selalu itu yang ku harap ketika memasuki gerbong kereta commuter line. Aku memilih duduk di dekat pintu, kamu tahu kenapa? simple~ karena biar mudah mobilisasi untuk aku keluar dari sini agar tak perlu repot menyusuri selasar gerbong hanya untuk keluar.
 Setelah mendapat aspek sinyal hijau kereta ini melaju. Melaju lambat...lambat...lambat...kemudian perlahan cepat...cepat...cepat.
Matahari dari dalam sini terlihat temaram. Awan-awan-nya pun putih melayang perlahan seperti pergi meninggalkan aku di dalam gerbong ini.
 Seketika dingin dari pendingin gerbong ini bekerja hebat membuat tubuhku meringkuk kedinginan...Aku butuh panas. Tidak...Tidak panas tetapi hangat. Yaa aku butuh kehangatan dalam gerbong yang terlihat tidak terlalu padat ini.

*****

"Dia...Iyaa benar dia yang rambut panjang sebahu hitam pirang tergerai"

"Iyaa benar...Dia yang mengenakan sepatu mengkilap yang warna-nya senada dengan warna celananya"

*****

 Kereta ini akhirnya tiba di pemberhentian selanjutnya, Kembali berhenti hanya untuk singgah tidak menetap. Datang dan pergi seperti itu seterusnya tanpa henti. Kini kereta berhenti di stasiun Pasar Minggu. Gerbong ini masih nampak lengang tidak padat seperti waktu pergi atau pulang kantor. Hembusan angin menyelinap ketika pintu terbuka. Semilir menggelincarkan mataku pada seseorang yang bergerak memasuki gerbong. Kemudian dia duduk tepat di hadapanku. Dia mengenakan dress motif bunga-bunga terpancar jelas senyumnya yang merekah dan indah. Pintu kereta kembali menutup. Setelah mendapat aspek sinyal hijau kereta pun berpaling dari stasiun Pasar Minggu. Terlihat peron itu kembali menangisi kepergian kereta ini. Kamu pandai sekali membuat wanita patah hati hanya dengan singgahmu. Apakah yang singgah selalu membuat patah hati?
Ahh~ patah hati memang menyebalkan dan memilukan hati pastinya. Hentikan. Sudah jangan bicarakan hati karena yang berawal dari hati akan berakhir kembali kepada hati dan ketika berakhir itu pedih.

*****

 Kini aku di hadapan dia. Iyaa benar dia...Dia yang berbibir merah ranum menggoda. Dia mengeluarkan sesuatu dari dalam ransel Jansports hitam bermotif bunga warna merah jambu. Entah apa yang dia keluarkan, mungkin selembar cinta untuk-ku. Itu kemungkinan-ku kalau kemungkinan-mu selembar cinta untukmu. Aku tak akan rela tentunya sama seperti peron tadi.
 Dia sepertinya memang mengeluarkan selembar. oh tidak tetapi dua, tiga, empat. Dia mengeluarkan empat lembar kertas yang dia clip menjadi satu, Jadi untuk menjadi satu kalian harus clip.
 Dia menatap tajam lembaran itu dengan alis yang melengking dan mata yang mendelik indah dibalik kacamata bertangkai merah berkaca bening transparan. Seketika pikiranku melayang melihat alis yang melengking tipis dan mata yang tajam mendelik itu. Aku seperti melihat cuplikan itu. cuplikan semu benar semu. Aku seperti melihat cuplikan masa lalu-ku melihat alis yang melengking tipis dan mata yang tajam mendelik itu.

"Dia...Iyaa benar dia seperti wanita cuplikan masa lalu-ku"

"Iyaa benar...Dia cuplikan wanita masa lalu-ku"

 Aku lupa dia punya nama. Sebentar...sebentar, coba aku mengingatnya. Aku sepertinya lupa menaruhnya dimana tetapi benar dia cuplikan masa lalu-ku. Aku coba mengambil cuplikan-cuplikan bawah sadarku. Menggalinya dari ribuan kenangan. Mencarinya diantara ribuan momentum. Mengingatnya dari sekian banyak peristiwa yang terjadi di hidupku. 
"Aku Ingat sebatas ingatanku, dia teman wanitaku semasa bangku sekolah dasar"
Namanya? Itulah yang aku cari sedari tadi. Kenapa aku lupa namanya...
Coba kamu tanyakan padanya! Siapa dia punya nama? Aku terlalu pecundang untuk menanyakannya. Baiklah. Aku saja yang menanyakan nama wanita cuplikan masa lalu-ku itu.

"Hei kamu cuplikan masa lalu-ku!"

wanita itu mulai mengerinyitkan dahi "Maaf...!"

"Iyaa kamu teman wanitaku semasa sekolah dasar, nama-mu siapa? Aku lupa!"

 Dia kini benar benar resah dan meninggalkanku dengan langkah gontai. menghilang di tengah lengah-nya gerbong. Selangkah demi selangkah tubuhnya tertelan dan hilang.
Sudahlah~ sudah aku tidak akan memaksa-nya untuk mengingat cuplikan masa lalu-ku. Mungkin dia sudah melupakan ingatan-nya. Maka ku hentikan semua disini. Di gerbong ini ku hentikan ingatan atau kenanganku tentang kamu. Enough~

So great that I want to just remember the past, up to half of my mind flew screeching eyebrows and eye catching that glaring that when it was not you. not you. only illusions about you. about our memories.
So great I remember the past to dream, up to half of my mind.

 Dan kini aku telah sampai pada stasiun terakhir. This is the end of a memorable. Aku hampir sampai pada tujuan akhirku. Aku hampir sampai rumah nenek. Aku ingin mendengar kisah pelangi di kala senja. I'm almost to the glimmer of a rainbow sparkle after dark with raindrops great damage

I want a rainbow at twilight coloring my day back after you lost from my memory

"Anyone interested in becoming my twilight rainbow?"




10/05/2013

HAKIM


Ini negeri yang sok sibuk dengan kesibukan
Rakyat miskin terus didesak mengencangkan sabuk perut karena kelaparan.
Ini konspirasi politik-an,
ini akal busuk para majikan.

Semua di gelar karena kepentingan,
yang tidak berkepentingan dilarang hunting.
Ini sinting, benar-benar sinting.

Hei...kamu yang memakai gelar hakim,
yang mempunyai moral minim.
Apa masih pantas kamu dipanggil hakim?
Dasar pecundang,
kamu ternyata hanya seorang lelaki yang pantas memakai anting di kuping.

Lembaga Konstitusi,
lembaga yang sekadar omongan basa-basi.
Lembaga  pengawas demokrasi,
Bobrok, penuh dengan korupsi.
Lembaga yang seharus-nya mengawasi demokrasi,
kini lembaga yang harus-nya diawasi demokrasi.

Wahai Yang Mulia,
Pemimpin Indonesia Raya.
Kami ingin lembaga yang bersih,
bersih tanpa pilih kasih,
bersih tanpa kepentingan orang-orang sinting.

Kami memang hanya rakyat miskinan,
tetapi kami tidak bodoh karena kemiskinan.
Kami tidak butuh omongan obral,
kami butuh hakim baik moral.

10/02/2013

Hitam Susu

Aku menyelami hitam pekat malam dengan tubuhmu yang hangat,
bibirku dan bibirmu bertemu dalam satu malam pekat.
Aku teguk hitam susu yang mengalir di celah bibirmu,
hitam putih diantara bening bibirmu dan merah bibirku.
Hangat...Sangat hangat,
hingga beban ini terlalu mengikat.
Kamu mulai menyengat,
membuat lidahku mengerenyit dan mengeringat.

Bibir beningmu sangat basah setelah ku teguk.
Tubuh beningmu terlihat hitam putih yang mengangguk,
seperti menagih untuk kembali ku teguk.

Dingin membuat bintang terlihat mengkerut,
ku saksikan kabar berita duka "korupsi" lewat layar lebar bergambar mulut.
Kembali, ku teguk hitam susu yang ku buat,
malam semakin malam semakin larut,
hitam susu terlalu nikmat untuk malam pekat.
Ini negeri yang carut marut,
semua hanya urusan perut.
Pendidikan, kemiskinan, kelaparan hanya menjadi kemelut.
Sesat...Sangat sesat

Terang di timur kembali berada di ufuk.
Gelap malam mulai merajuk,
embun pagi pada daun mulai masuk menusuk tulang rusuk.
Ku teguk hitam susu yang tinggal setetes,
ku hirup semua masuk.
Ironis-nya...Kabar busuk itu belum juga hilang dalam ingatan,
hanya berganti parodi pejabat blusuk-an.
Lucu...Sangat lucu

Ketawa terbahak-bahakan...

Add caption