Tubuhmu begitu hangat menggantung pada rantingku. Aku pikir kamu menikmatiku. tetapi ternyata, tidak!
Kamu selalu lahirkan kelembutan pada tubuhku yang teraba kasar oleh bibirmu. Aku mencintaimu dalam diam. Hanya dalam diam aku mencintaimu.
Aku hanya sebatang pohon besar yang kasar dan buruk rupa sedangkan kamu, kamu selembar daun yang sedang bersemi indah merekah. Aku dan kamu menyatu.menyatu dalam sebuah ragu dalam sebuah kalbu.
"Apakah kamu akan meninggalkan aku ketika angin berhembus sahdu?"
"Tidak! Aku tidak akan meninggalkanmu pohon biar angin berhembus sekalipun Aku tidak akan meninggalkanmu"
"Apa kamu yakin?"
"Yakin. Aku janji tidak akan meninggalkanmu. Percayalah!"
Aku masih mengenang janjimu. Janjimu yang begitu indah terasa. Janji yang begitu manis kau beri, namun itu hanya sementara.
HHHHHSSSSUUUUHHHH~
Selepas itu kamu menggugurkan tubuhmu karena terhasut oleh angin. Aku benci dia. Sungguh aku benci dia "dasar angin-anginan"
Terkadang ia sangat baik kepadaku namun tiba-tiba ia berubah jahat seketika kepadaku.semaunya.sesuka hatinya.
Sungguh tidak pasti.tidak mempunyai pendirian sebab itu aku membencinya selain karena dia telah menghasut wanitaku.
Dan kini hanya ada aku disini yang menahan airmata kehilanganmu, yang membekas dalam tubuhku hanya sebuah ucapan perpisahan "Aku mencintaimu pohon" setelah itu tubuhmu jatuh pada sebuah yang mengalir disamping kakiku yang terpasung. Lihatlah dirimu semakin jauh mengahanyut~
-Daun Gugur-
Maaf. Maafkan aku!
Aku mungkin sudah lelah kau gantung tanpa kejelasan di ranting hebatmu.
Sesengguhnya aku mencintaimu. Aku tidak bermaksud meninggalkanmu. Sungguh bukan maksudku meninggalkan-mu walaupun itu hanya sementara.
Percayalah aku mencintaimu! Angin terlalu jahat untuk kita hidup bersama dalam bahtera. Aku benci dia.
Sungguh aku benci dia seperti kamu membencinya.
Kini tubuhku bersamamu. Mengalir mengalun dalam alunan. "Oh...Hentikan alunanmu! Kita bergerak perlahan saja. Aku tak mampu mengikuti arus derasmu"
Perlahan kau pun melambat arus derasmu.
"Bolehkah aku bersandar di bahumu?"
Biarkan... Biarkan sedihku larut bersama deburanmu
Biarkan... Biarkan tangisku hilang bersama riakmu
Biarkan... Biarkan peluhku hanyut bersama arusmu
"Wahai air hendak kemana aku akan kau bawa?"
"Mengertikah kau kalau aku mencintainya. Aku merindukannya sekarang?"
Maafkan. Maafkan aku!
Curahanku nampaknya membuatmu sedikit gusar kepadaku.
Aku sedang patah hati. Wahai air tolong mengertilah aku...!
-Angin-
Aku angin. Aku tidak selalu pasti terkadang berubah-ubah. Aku tidak gemar menetap karena menetap membosankan. Kamu tidak akan menemukan yang baru jika hanya menetap. Menetap hanya mengahambat karena untukku "Life must moving. Don't stagnasion"
Pagi ini aku temui kisah cinta tentang daun dan pohon.
Maafkan aku. Aku terlalu jahat untuk memisahkan kalian
Aku mengahasut daun agar menggugurkan tubuhnya dan jatuh menghanyut bersama air sungai disamping akar pohon sebatang kara yang terpasung
Yang aku lihat daun telah terlalu lama tergantung. Bertahan menunggu kejelasan dari sebatang pohon berbatang kasar.
"Hei..! daun untuk apa kamu menggantungkan hidupmu di pohon kasar itu?"
daun menjawab demikian "aku menunggu cinta dari pohon ini"
"Sudahlah. Sudah! Kamu ini cantik untuk apa menunggu cinta dari pohon tua yang tidak memberimu kejelasan"
Daun itu terdiam merenung menerka perkataanku
"Iya kau bener angin. Aku juga sepertinya sudah lelah bertahan disini"
Tanpa pikir panjang. Aku lalu menghembuskan udara yang menerpa daun itu hingga membuat tubuhnya lepas dari pelukan ranting di pohon itu.
"Astaga! Apa yang kau lakukan angin?" Tanya daun kepadaku.
"Aku melakukan yang terbaik untukmu"
"Baiklah angin. Izinkan aku mengucapkan perpisahan untuk yang pertama dan yang terakhir pada dirinya"
Adegan ini membuatku iri hati. Sudahlah baiknya aku menutup mataku tanpa melihat mereka bertatapan, namun izinkan aku menceritakan apa yang kudengar dari tatapan kalian berdua.
"Selamat tinggal pohon"
"Kamu mau kemana daun"
"Entahlah. Tapi aku harus pergi. Maafkan aku. Aku mencintaimu pohon"
Setelah itu hening.........
Dan yang terdengar hanya desahan........
Baiklah sebaiknya aku hentikan dengan hembusanku, sebelum semua terlanjur basah.
SRSRSRSRRSRSRRSSRSR~suara angin berhembus
Daun jatuh perlahan. pohon dan daun mulai bersedih.
Airmata pun akhirnya mengalir di selaput selaput mata kalian berdua. Tumpah menetes hingga ke dasar sungai yang mengalir.
Sedangkan aku. Aku pun langsung menghilang. Meninggalkan kisah mereka berdua. Aku tidak suka menetap. Maafkan aku wahai pohon...Maafkan aku wahai daun...Ini yang terbaik untuk kalian.
![]() |
| Add caption |
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar