9/22/2013

Daun Pohon Yang Membenci Angin

-Pohon-

Tubuhmu begitu hangat menggantung pada rantingku. Aku pikir kamu menikmatiku. tetapi ternyata, tidak!

Kamu selalu lahirkan kelembutan pada tubuhku yang teraba kasar oleh bibirmu. Aku mencintaimu dalam diam. Hanya dalam diam aku mencintaimu.
Aku hanya sebatang pohon besar yang kasar dan buruk rupa sedangkan kamu, kamu selembar daun yang sedang bersemi indah merekah. Aku dan kamu menyatu.menyatu dalam sebuah ragu dalam sebuah kalbu.

"Apakah kamu akan meninggalkan aku ketika angin berhembus sahdu?"


"Tidak! Aku tidak akan meninggalkanmu pohon biar angin berhembus sekalipun Aku tidak akan meninggalkanmu"


"Apa kamu yakin?"


"Yakin. Aku janji tidak akan meninggalkanmu. Percayalah!"


Aku masih mengenang janjimu. Janjimu yang begitu indah terasa. Janji yang begitu manis kau beri, namun itu hanya sementara.


HHHHHSSSSUUUUHHHH~


Selepas itu kamu menggugurkan tubuhmu karena terhasut oleh angin. Aku benci dia. Sungguh aku benci dia "dasar angin-anginan"

Terkadang ia sangat baik kepadaku namun tiba-tiba ia berubah jahat seketika kepadaku.semaunya.sesuka hatinya.
Sungguh  tidak pasti.tidak mempunyai pendirian  sebab itu aku membencinya selain karena dia telah menghasut wanitaku.

Dan kini hanya ada aku disini yang menahan airmata kehilanganmu, yang membekas dalam tubuhku hanya sebuah ucapan perpisahan "Aku mencintaimu pohon" setelah itu tubuhmu jatuh pada sebuah yang mengalir disamping kakiku yang terpasung. Lihatlah dirimu semakin jauh mengahanyut~


-Daun Gugur-


Maaf. Maafkan aku!

Aku mungkin sudah lelah kau gantung tanpa kejelasan di ranting hebatmu.
Sesengguhnya aku mencintaimu. Aku tidak bermaksud meninggalkanmu. Sungguh bukan maksudku meninggalkan-mu walaupun itu hanya sementara.
Percayalah aku mencintaimu! Angin terlalu jahat untuk kita hidup bersama dalam bahtera. Aku benci dia.
Sungguh aku benci dia seperti kamu membencinya.

Kini tubuhku bersamamu. Mengalir mengalun dalam alunan. "Oh...Hentikan alunanmu! Kita bergerak perlahan saja. Aku tak mampu mengikuti arus derasmu"

Perlahan kau pun melambat arus derasmu.

"Bolehkah aku bersandar di bahumu?"


Biarkan... Biarkan sedihku larut bersama deburanmu

Biarkan... Biarkan tangisku hilang bersama riakmu
Biarkan... Biarkan peluhku hanyut bersama arusmu

"Wahai air hendak kemana aku akan kau bawa?"


"Mengertikah kau kalau aku mencintainya. Aku merindukannya sekarang?"


Maafkan. Maafkan aku!

Curahanku  nampaknya membuatmu sedikit gusar kepadaku.
Aku sedang patah hati. Wahai air tolong mengertilah aku...!


-Angin-


Aku angin. Aku tidak selalu pasti terkadang berubah-ubah. Aku tidak gemar menetap karena menetap membosankan. Kamu tidak akan menemukan yang baru jika hanya menetap. Menetap hanya mengahambat karena untukku "Life must moving. Don't stagnasion"


Pagi ini aku temui kisah cinta tentang daun dan pohon.

Maafkan aku. Aku terlalu jahat untuk memisahkan kalian
Aku mengahasut daun agar menggugurkan tubuhnya dan jatuh menghanyut bersama air sungai disamping akar pohon sebatang kara yang terpasung

Yang aku lihat daun telah terlalu lama tergantung. Bertahan menunggu kejelasan dari sebatang pohon berbatang kasar. 


"Hei..! daun untuk apa kamu menggantungkan hidupmu di pohon kasar itu?"


daun menjawab demikian "aku menunggu cinta dari pohon ini"


"Sudahlah. Sudah! Kamu ini cantik untuk apa menunggu cinta dari pohon tua yang tidak memberimu kejelasan"


Daun itu terdiam merenung menerka perkataanku


"Iya kau bener angin. Aku juga sepertinya sudah lelah  bertahan disini"


Tanpa pikir panjang. Aku lalu menghembuskan udara yang menerpa daun itu hingga  membuat tubuhnya lepas dari pelukan ranting di pohon itu.


"Astaga! Apa yang kau lakukan angin?" Tanya daun kepadaku.


"Aku melakukan yang terbaik untukmu"


"Baiklah angin. Izinkan aku mengucapkan perpisahan untuk yang pertama dan yang terakhir pada dirinya"


Adegan ini membuatku iri hati. Sudahlah baiknya aku menutup mataku tanpa melihat mereka bertatapan, namun izinkan aku menceritakan apa yang kudengar dari tatapan kalian berdua.


"Selamat tinggal pohon"


"Kamu mau kemana daun"


"Entahlah. Tapi aku harus pergi. Maafkan aku. Aku mencintaimu pohon"


Setelah itu hening......... 


Dan yang terdengar hanya desahan........ 


Baiklah sebaiknya aku hentikan dengan hembusanku, sebelum semua terlanjur basah.


SRSRSRSRRSRSRRSSRSR~suara angin berhembus


Daun jatuh perlahan. pohon dan daun mulai bersedih.

Airmata pun akhirnya mengalir di selaput selaput mata kalian berdua. Tumpah menetes hingga ke dasar sungai yang mengalir.
Sedangkan aku. Aku pun langsung menghilang. Meninggalkan kisah mereka berdua. Aku tidak suka menetap. Maafkan aku wahai pohon...Maafkan aku wahai daun...Ini yang terbaik untuk kalian.

Add caption

9/18/2013

Semua Kata ''Mungkin" Untuk Kamu

Mungkin aku terlalu mencintaimu

Mungkin aku terlanjur mencintaimu

Mungkin aku bukan orang yang tepat untukmu

Mungkin aku dan kamu Jodoh

Mungkin hanya aku yang mengabaikanmu begitu saja

Mungkin aku merindukanmu

Mungkin aku telah jatuh cinta padamu

Mungkin tiada hariku tanpamu

Mungkin kamu telah bosan denganku

Apa Mungkin, ini bisa terulang?

Mungkin aku terlambat untuk datang padamu

Mungkin kamu lelah menunggu

Mungkin kamu sudah dengan yang lain

Mungkin kamu sudah melupakan aku

Mungkin aku yang salah melepasmu

Mungkin aku yang bodoh karena melewatkanmu

Mungkin hanya senyummu yang membekas dalam benakku

Apa Mungkin, aku bisa kembali padamu?

Mungkin hanya aku yang ingat dengan kita

Mungkin kamu masih ingat dengan kita

Mungkin akan tiada lagi senyuman yang menyapa pagiku

Mungkin akan tiada lagi ucapan indah darimu yang mewarnai hariku sebelum ku bermimpi

Mungkin kenangan ini telah lenyap tertelan waktu

Mungkin hanya aku yang merindu dan mencinta sedangkan kamu tidak

Mungkin kamu telah mengahapusku dari hatimu

Mungkin ini semua telah takdirku harus berpisah denganmu

Mungkin Tuhan punya rencana yang lebih indah untuk kita

Mungkin dari semua kata Mungkin yang kemungkinan...

Kepada Pagi

Kepadamu Pagi

Cahaya mulai menderap
Meniti terang di antara gelap
Sinar itu tidak tertidur bahkan ketika tubuh ini terlelap
Kemilau itu terus bergerak walapun hanya sekadar merayap

Hembusan angin kian mendesah,
kian terasa ketika basah
Terlihat resah dan sangat gelisah ketika susah
Kepada siapa aku harus berkeluh kesah?

Sudahlah hening...bising membuat pusing
Tubuh ini masih meringkuk dan tak ingin berpaling
Biarkan tubuh ini menikmati hening dalam kening
Pagiku bukan pencuri yang harus diteriaki “maling”

Ucapkan “selamat pagi” ketika daun basah mulai bernyanyi
Tubuh ini merindukan bunyi
Merindukan aroma tubuh pagi yang sunyi
Tubuh pagi yang suci, bersih bagaikan bayi
Karena Aku tanpa henti akan selalu mencintaimu pagi...



Add caption

Setengah Lingkaran Matahari, Lengkungan Pelangi

kami selalu menantikan senja datang dengan keindahannya
waktu untuk menggantungkan harapan setinggi mungkin
waktu melepas hasrat yang terpendam dalam tubuh
waktu berkeluh kesah tentang resah yang kami rasakan
waktu menceritakan pengalaman yang kami rasakan selama hidup

*****

sore ini terasa dingin menusuk selaput kulit
genangan air pun masih menggenang di permukaan daratan yang tidak sejajar
biru langit dan awan putih mulai memudar
renkarnasi pun telah datang pada langit
biru langit berubah Jingga seketika dan awan putih menghilang entah kemana yang nampak hanya hitam sedikit abu
di sudut lain kamu nampak tersenyum menikmati pelangi melengkung tebarkan warna-nya
di sudut lain Ia mulai mengepakkan lengannya dan mengamati matahari berbentuk setengah lingkaran mulai terbenam di tepi barat
sedangkan aku hanya mampu merekam dengan Jari Jemariku merasakan melalui sudut mereka

*****

aku selalu merasa bahagia ketika hujan turun karena aku bisa merasakan sejuknya selepas itu dan selama ini aku selalu melihat pelangi sehabis hujan itulah alasan yang membuatku bahagia
menikmati pelangi selepas hujan seperti melihat langit dunia dengan penuh warna tidak sebatas kuning, biru, putih, Jingga, atau hitam yang kau lihat ketika terik
senandung pelangi selalu ku dengar selepas hujan, senandung yang selalu dinyanyikan oleh nenekku...aku merindukan itu nek...
walau kini tanpa senandung itu aku akan tetap selalu ingin menyaksikan pelangi mewarnai langit dunia seperti Janjiku kepada nenek yang akan selalu mewarnai kehidupan manusia dunia

*****

Ia masih sibuk mengamati matahari yang terbenam
kini jiwa-nya semakin melekat dengan senja
tubuh keringnya mulai tegak berdiri kokoh lengannya pun merentang kuat dengan mengepalkan ujung Jari-nya
kepala yang awalnya tertunduk kini mendongak perlahan
tubuhnya seperti seorang anak manusia yang baru saja terlahir kembali
kini Ia seakan siap menantang gelap yang mulai datang menghampirinya
Ia kini siap meraih angan angannya

*****

Inilah waktuku, ketika senja mulai menyapa hangat tubuhku meski hujan dengan dingin tak akan mampu mengusik hangat dari senjaku
momentum matahari yang terbenam selalu kunantikan sebelum malam datang
Jiwaku seakan menyatu dengan senja
Itu mungkin salah satu alasan mengapa namaku Handy Senja Utomo
alasan selain aku lahir ketika sore menjelang malam
aku selalu merentangkan tanganku disaat senja mulai menggenggam tubuhku
aku seakan terbang menghampiri matahari yang akan terbenam kepalaku mendongak merasakan hembusan angin menerpa tubuhku
kecilku selalu diceritakan senja oleh ayah dan ibu
kita selalu ada saat menyaksikan senja bersama di atap ini, namun sekarang kebiasaan itu mulai luntur karena kesibukan mereka sebagai orang tua
meskipun aku tetap mengamatinya walaupun senjaku tak seindah ketika bersama mereka karena aku yakin “senjaku akan indah pada waktunya”

*****

kami selalu menikmati senja dan pelangi dengan cara yang berbeda
selalu memiliki pandangan yang berbeda
karena menurut kami perbedaan itu perlu, itu alasan kami diciptakan berbeda
dan bersama diantara perbedaan itu indah seindah mengamati senja dan pelangi yang datang bersamaan

*****

pelangi selalu memberi warna keindahan pada langit yang terkesan monoton
tebaran warna menggambarkan pelukisnya yang Agung
senandung yang melekat dengan kenangannya sedari kecil hingga tumbuh dewasa
mewarnai dunia ialah harapan yang kami bertiga coba untuk wujudkan
memang raga ini tak seindah pelangi namun cita-cita ini seindah pelangi
walau tak seindah pelangi namun kami pernah bermimpi ketika senja mulai menyapa hangat tubuh
menggenggam raga agar mampu kokoh berdiri diantara peluru peluru dunia yang mencoba menghantam cita-cita yang kami gantungkan di atas langit sebelum gelap
ketika yang lain baru akan bermimpi dengan gelap malam berhias bulan bertabur bintang
kami sudah mulai bermimpi saat senja menenggelamkan matahari di ufuk barat
Inilah sekelumit senja waktu kami menggantungkan ribuan kenangan dan harapan, sepenggal cerita yang akan selalu kami kenang ketika lupa mencemar ingatan...setengah lingkaran matahari terbenam, lengkungan pelangi terbit...itulah kisah kami.


Add caption

Sepasang "RED SHOES"

Kalian selalu bersamaku dalam suka maupun duka. Selalu bersama saat basah dengan airmata ataupun kering dengan canda tawa.
Kalian tak terpisahkan.....
Pada dasarnya Tuhan menciptakan telah berpasang-pasangan, lelaki dengan perempuan, kanan dengan kiri, semua berpasangan. Namun untuk yang belum berpasangan dimohon....Sabar` karena semua akan berpasangan pada waktunya.

Jangan tanya siapa mereka ! Darimana mereka? Jangan tanyakan itu !
Sabar...aku akan menceritakannya padamu.
Aku mendpatkan mereka dengan merelakan sebaian uang saku bajuku, mereka aku dapatkan di sebuah toko sepatu pinggir jalan, tidak di sebuah gedung perbelanjaan atau toko ternama di jagad raya ini.
Aku mendapatkan mereka sepasang tidak hanya satu namun sepasang, lebih dari satu dan itu dua.
Aku tidak mengajarkan kalian untuk mendua tetapi kalau kalian hanya memiliki satu tidak ada gunanya, maka dari itu kalian harus memiliki dua. Mereka saling melengkapi satu sama lain. Kisah mereka seperti dongeng putri tidur yang terbangun karena kecupan pangeran. 
Tubuhmu memang merah menawan, entah karena kecupan atau memang warna tubuhmu yang memerah buta tetapi tunggu...Aku masih melihat bekas itu di sekitar lehermu, bekas luka yang menyakiti tubuhmu, maafkan...Aku telah membuatmu tersangkut sebuah kawat.

"Ah...kalian terus membuatku cemburu."
"Tolong...hentikan kemesraan kalian dari wajahku"
Aku tak sanggup melihat mereka berkencan di setiap hariku. Mereka selalu bersama. 
Mereka selalu bemesraan dalam gelap. tidak gelap-gelapan hanya gelap karena aku lebih suka terang-terangan. 
Lampu di kamarku tidak padam namun kolong mejaku begitu gelap untuk kalian bemesraan. Maafkan aku jika aku mengintip kemesraan kalian !

Kalian sepasang, terbuat bukan untuk berpisah, terlahir untuk saling melengkapi, tercipta untuk menjadi sahabat atau bahkan lebih dari sahabat yang membuat kalian merah...Kalian sepasang "Red Shoes" yang memerah buta....

Add caption