"Dia...Iya benar dia yang duduk tepat di hadapanku"
"Iya benar...Dia yang mengenakan dress motif bunga-bunga yang merekah seperti senyumnya yang indah"
*****
Selasar kereta ini tidak terlalu ramai seperti waktu pergi atau pulang kantor. Aku tidak memilih waktu itu karena kereta commuter line terlalu sibuk dan padat mengangkut penumpang yang sibuk dengan belbagai masalah di ransel punggungnya.
Hari ini aku ingin ke Bogor. Kamu tahu kan kota itu? Iya kota yang autentik dengan hujannya, Berharap Bogor tidak dengan autentik-nya hari ini...Aminn
Aku ke Bogor ingin mengunjungi nenek-ku. Aku hanya ingin bercengkrama dengan beliau, aku rindu nenek...aku rindu senandung pelangi-nya di kala senja.
Stasiun ini masih ramai, masih menunggu kepergian dan kedatangan. Inilah persinggahan kereta kereta disini hanya sementara. Hanya datang kemudian pergi seperti kisah percintaanku selama ini. Ahh sudahlah~Aku tidak ingin melodrama disini terlalu eksplisit aku menceritakan kisahku padamu. Kereta yang akan mengantarku belum tiba pada peron berlabuhnya masih singgah di stasiun sebelah, mungkin kereta yang akan ku tumpangi masih bermesraan dengan stasiun sebelah dan stasiun sebelah pun belum rela melepasnya begitu saja menuju stasiun ini. Itu hanya kemungkinan-ku saja tetapi kalau kamu punya kemungkinan lain silahkan dengan kemungkinan-mu. Kamu boleh berbeda denganku, tak mesti sama denganku tetapi biarkan aku dan kamu menyatu dengan ini.
*****
"Dia...Iya benar dia yang duduk di hadapanku memakai kacamata dengan bertangkai berwarna merah berkaca bening transparan"
"Iyaa benar...Dia wanita yang membawa ransel Jansports hitam bermotif bunga warna merah jambu"
*****
Akhirnya kereta yang ku tunggu tiba pada peron berlabuhnya setelah melodrama dan tangis airmata menetes di krikil krikil tajam bantalan rel.
"Aku pergi untuk kembali. Kembali singgah padamu"
"Hanya singgah?"
"Yaa karena tugasku hanya singgah padamu peron"
"Enyahlah~ lupakan aku. Aku tidak ingin bicara padamu lagi"
Mungkin setelah itu stasiun enggan untuk berbicara pada kereta setiap ia singgah. Itu hanya kemungkinan-ku tetapi kalau kamu punya kemungkinan lain silahkan, aku tidak ingin memaksa. Aku hanya ingin dengan kelembutan. Memaksa terkesan dengan kekerasan. Aku benci kekerasan.
Langkah ku mulai memasuki rangkaian kereta ini. Aku masuk pada gerbong 5 semoga gerbong kenyamanan-ku selalu itu yang ku harap ketika memasuki gerbong kereta commuter line. Aku memilih duduk di dekat pintu, kamu tahu kenapa? simple~ karena biar mudah mobilisasi untuk aku keluar dari sini agar tak perlu repot menyusuri selasar gerbong hanya untuk keluar.
Setelah mendapat aspek sinyal hijau kereta ini melaju. Melaju lambat...lambat...lambat...kemudian perlahan cepat...cepat...cepat.
Matahari dari dalam sini terlihat temaram. Awan-awan-nya pun putih melayang perlahan seperti pergi meninggalkan aku di dalam gerbong ini.
Seketika dingin dari pendingin gerbong ini bekerja hebat membuat tubuhku meringkuk kedinginan...Aku butuh panas. Tidak...Tidak panas tetapi hangat. Yaa aku butuh kehangatan dalam gerbong yang terlihat tidak terlalu padat ini.
*****
"Dia...Iyaa benar dia yang rambut panjang sebahu hitam pirang tergerai"
"Iyaa benar...Dia yang mengenakan sepatu mengkilap yang warna-nya senada dengan warna celananya"
*****
Kereta ini akhirnya tiba di pemberhentian selanjutnya, Kembali berhenti hanya untuk singgah tidak menetap. Datang dan pergi seperti itu seterusnya tanpa henti. Kini kereta berhenti di stasiun Pasar Minggu. Gerbong ini masih nampak lengang tidak padat seperti waktu pergi atau pulang kantor. Hembusan angin menyelinap ketika pintu terbuka. Semilir menggelincarkan mataku pada seseorang yang bergerak memasuki gerbong. Kemudian dia duduk tepat di hadapanku. Dia mengenakan dress motif bunga-bunga terpancar jelas senyumnya yang merekah dan indah. Pintu kereta kembali menutup. Setelah mendapat aspek sinyal hijau kereta pun berpaling dari stasiun Pasar Minggu. Terlihat peron itu kembali menangisi kepergian kereta ini. Kamu pandai sekali membuat wanita patah hati hanya dengan singgahmu. Apakah yang singgah selalu membuat patah hati?
Ahh~ patah hati memang menyebalkan dan memilukan hati pastinya. Hentikan. Sudah jangan bicarakan hati karena yang berawal dari hati akan berakhir kembali kepada hati dan ketika berakhir itu pedih.
*****
Kini aku di hadapan dia. Iyaa benar dia...Dia yang berbibir merah ranum menggoda. Dia mengeluarkan sesuatu dari dalam ransel Jansports hitam bermotif bunga warna merah jambu. Entah apa yang dia keluarkan, mungkin selembar cinta untuk-ku. Itu kemungkinan-ku kalau kemungkinan-mu selembar cinta untukmu. Aku tak akan rela tentunya sama seperti peron tadi.
Dia sepertinya memang mengeluarkan selembar. oh tidak tetapi dua, tiga, empat. Dia mengeluarkan empat lembar kertas yang dia clip menjadi satu, Jadi untuk menjadi satu kalian harus clip.
Dia menatap tajam lembaran itu dengan alis yang melengking dan mata yang mendelik indah dibalik kacamata bertangkai merah berkaca bening transparan. Seketika pikiranku melayang melihat alis yang melengking tipis dan mata yang tajam mendelik itu. Aku seperti melihat cuplikan itu. cuplikan semu benar semu. Aku seperti melihat cuplikan masa lalu-ku melihat alis yang melengking tipis dan mata yang tajam mendelik itu.
"Dia...Iyaa benar dia seperti wanita cuplikan masa lalu-ku"
"Iyaa benar...Dia cuplikan wanita masa lalu-ku"
Aku lupa dia punya nama. Sebentar...sebentar, coba aku mengingatnya. Aku sepertinya lupa menaruhnya dimana tetapi benar dia cuplikan masa lalu-ku. Aku coba mengambil cuplikan-cuplikan bawah sadarku. Menggalinya dari ribuan kenangan. Mencarinya diantara ribuan momentum. Mengingatnya dari sekian banyak peristiwa yang terjadi di hidupku.
"Aku Ingat sebatas ingatanku, dia teman wanitaku semasa bangku sekolah dasar"
Namanya? Itulah yang aku cari sedari tadi. Kenapa aku lupa namanya...
Coba kamu tanyakan padanya! Siapa dia punya nama? Aku terlalu pecundang untuk menanyakannya. Baiklah. Aku saja yang menanyakan nama wanita cuplikan masa lalu-ku itu.
"Hei kamu cuplikan masa lalu-ku!"
wanita itu mulai mengerinyitkan dahi "Maaf...!"
"Iyaa kamu teman wanitaku semasa sekolah dasar, nama-mu siapa? Aku lupa!"
Dia kini benar benar resah dan meninggalkanku dengan langkah gontai. menghilang di tengah lengah-nya gerbong. Selangkah demi selangkah tubuhnya tertelan dan hilang.
Sudahlah~ sudah aku tidak akan memaksa-nya untuk mengingat cuplikan masa lalu-ku. Mungkin dia sudah melupakan ingatan-nya. Maka ku hentikan semua disini. Di gerbong ini ku hentikan ingatan atau kenanganku tentang kamu. Enough~
So great that I want to just remember the past, up to half of my mind flew screeching eyebrows and eye catching that glaring that when it was not you. not you. only illusions about you. about our memories.
So great I remember the past to dream, up to half of my mind.
Dan kini aku telah sampai pada stasiun terakhir. This is the end of a memorable. Aku hampir sampai pada tujuan akhirku. Aku hampir sampai rumah nenek. Aku ingin mendengar kisah pelangi di kala senja. I'm almost to the glimmer of a rainbow sparkle after dark with raindrops great damage
I want a rainbow at twilight coloring my day back after you lost from my memory
"Anyone interested in becoming my twilight rainbow?"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar