Ia menetes seperti pisau menikam tubuh gagahku.
Ia menerpa selayaknya serpihan kaca menghantam wajahku
dengan penuh amarah, entah dendam~ entah amarah... aku pun tidak tahu buih
hatinya.
Entah siapa yang bodoh, tetapi mataku selalu terbuai tipu
muslihat keji dirinya.
Hadir dengan segenggam madu rindu, pergi meninggalkan
sebongkah racun pilu.
Aku Perkasa. Pecundang yang tersisa.
Anomali...