11/13/2013

Mungil

Telanjang, hanya kaki, 
basah kuyup, suara sayup, penuh suka walau duka
mungil-mungil tak berhenti, menari-nari ketika riuh, berlari-lari ketika haru
demi hanya selembar koin rupiah gambar pahlawan, 
"kemana pahlawan kemiskinan?" mungil bertanya.
aku hanya menemukanmu disini, tertidur di lembaran yang aku cari-cari, mungkin karena itu ia mencari,
"meski hanya dimensi tak berisi, dia pahlawanku" begitu ia berkata.
mungil-mungil menyuguhkan tudung untuk berlindung, bagi mereka yang ingin berlindung
bergerak-bergerak diantara diam-diam, melepas senyum menawarkan pelindung
aku bertanya "dimana tempat berlindung?" 
semua langit berdebu penuh airmata marabahaya, "disini tuan, di tudung mungilku" mungil berkata.
kamu menghadirkan tudungmu, aku berlindung dibawah tudungmu ketika langit mendungmu.
mungil-mungil menghantarkan kehangatan dengan tubuh yang menggigil...

Jakarta, 2013

11/10/2013

Aku Lumpuh Seketika

Ruang tunggu sudut kota
Rinai meludahi lempung para pendosa
Semilir merusak raga, menghembus hadirkan luka

Aku lumpuh seketika

Ketika riuh menetes diantara hiruk pikuk sudut kota
Kuyupkan bunga sebelum berkembang
Ada segumpal darah yang bersemayam, dalam marah jiwa merah-ku

Aku lumpuh seketika

Kaki tertahan bayang gemerlap hingar bingar sudut kota
Ketika riuh meludahi harga-ku 
Ingin ku menjadi melupa luka, namun angan ku menjadi meluap luka
Aku mengutip rindu diantara lara, saat ini,

Aku lumpuh seketika

Bekasi, 2013

https://soundcloud.com/user674763415/aku-lumpuh-seketika

Adendum

“Tali persahabatan itu lebih kuat daripada tali percintaan”

“Ternyata benar omongan itu tidak bisa digenggam”

“Maaf tidak ada tayangan ulang”

“Biarkan aku memilih jalanku sendiri tanpa kau menuntun aku dengan jari jemarimu”

“Gelap mulai menaungi tubuhmu yang terang”

“Kota ini sudah terlalu ramai dengan hingar-bingar manusia”

“Semua harus ada Indikator”

“Sudahlah sudah, jangan biarkan hatimu jatuh lebih dalam lagi dari sebelumnya”

“Jarum pada waktu di dinding mengayun indah deskripsi tentang bintang yang mulai larut oleh gelap”

“Inilah zaman dimana semua telah berbanding terbalik dengan aturan yang sudah tercipta oleh Sang Pencipta”

“Biarkan semua pada lintasannya yang akan menuntunmu pada pemberhentian yang sempurna”

“Malam mulai menghujamku dan melumuriku dengan lelah tanpa sadar”

“Seperti kata orang bijak, ambil yang baik dan buang yang buruk”

“Setiap manusia memiliki kekurangan dan kelebihan, termasuk diriku”

“Manusia membutuhkan manusia sebagai bahan untuk menginspirasi kehidupannya sebagai manusia”

“Selalu ada beban di setiap pundak manusia untuk setiap harinya, itulah tanggung jawab nyata yang dititipkan oleh Tuhan”

“Kemana perginya senyuman manismu, ketika senja mulai menyapa tubuhku?”

“Kamu, hukum gravitasi bumi dalam hidupku
selalu menjatuhkan aku di atas permukaan hatimu”

“Aku dan kamu, ibarat dua kutub magnet yang berbeda namun saling tarik menarik”

“Aku memandangmu kagum dalam diamku”

“Aku terlalu lama bertahan dan menahan, bahkan ketika hujan menetes pun aku masih bertahan untukmu dan menahan rindu padamu”

“Selalu kurindukan tulisan pesan singkatmu walaupun itu benar-benar sangat singkat”

“Pesan singkat yang di akhir kalimatnya selalu kau sisipkan titik dua bintang atau tanda cinta”

“Bibirku tak mampu menuturkan apa yang ditulis tanganku, lisan tak mampu menulis dan tulisan tak mampu berbicara”

“Maaf tidak sempat memilikimu”

“Manusia selalu diciptakan dengan fungsi dan bentuk yang berbeda satu dengan yang lain, jika terjadi kemiripan itu berarti hanya satu taksonomi”

“Mungkin salahku melewatkanmu”

“Mungkin aku terlambat menyambutmu”

“Sungguh terlalu khayal menarikmu kembali lagi dalam dimensiku dan membalutmu dengan waktu terindah”

“Berharap kembali, ibarat mengubah bulan untuk siang dan matahari untuk malam”

“Sudahlah diam! Terlalu percuma kau membuang waktu hanya demi kata kembali”

“Semua telah pergi dan menghilang”

“Sikapku menggumam menahan pesonamu”

“Apa yang telihat itu lah yang tertulis”

“Apa yang terdengar itu lah yang tertulis”

“Dan apa yang terasa itu lah yang tertulis”

Penguasa

Dibawah rinaimu, diatas lempungmu.
dengan keadaan ihram aku menemuimu,
dengan lembaran suci aku mendekatmu, 
dengan tubuhku yang penuh dosa

Aku dan kamu bertemu dalam sujud
bibirku, bibirmu menyelami gelap lembar suci
matamu, mataku menyulami gelap lembar suci 
hidungmu, hidungku bersetubuh khusyuk di atas kesucian

Sesungguhnya kamu tidak berwujud,
dan kamu tidak diperwujud
menatapmu tidak butuh mata, namun hati jua
menyentuhmu tidak sekadar meraba, namun jua merasa
kamu penguasa dari yang kuasa.

Megamendung, 2013

11/03/2013

Pergi

Aku menahan-mu hanya beberapa menit sebelum tubuhmu benar-benar pergi meninggalkan-ku dan kota ini. Aku tak mampu menawan disini. Mimpi-mu masih bergantung disana. Aku tak akan mengahalangi walaupun aku tak ingin kau pergi. Akan aku jaga rasa ini hingga kamu kembali memeluk tubuhku lagi dan lagi sesuka-mu semau-mu.

Aku menatap mata-mu yang penuh ragu, penuh dengan kebimbangan. Mengapa? Entahlah aku tidak tahu. Mungkin kamu bisa mengatakannya padaku jika kamu mau. Katakanlah. Kamu ingin menangis? Menangislah di dada-ku. Kamu ingin tersenyum? Tersenyumlah di bibirku atau kamu ingin mengatakan? Katakanlah cinta padaku. Aku bisa mengahadirkan-nya padamu. Katakanlah!

Katakanlah yang kau mau
   Katakanlah yang kau ingin
       Aku merindukan kamu yang dulu... -DRIVE, Katakanlah- 

Aku berada dalam ragu. Aku di titik kebimbangan. Apa kamu merasakan hal yang sama seperti-ku, ketika kamu menahan getaran suka? Cobalah kamu lihat dalam diriku. Penuh dengan sosok dirimu. Cobalah gunakan perasaan-mu. Cobalah gunakan kepekaanmu.
Aku ragu...Aku ragu untuk bilang aku suka kamu
Aku ragu...Aku ragu untuk katakan aku cinta kamu
Aku mohon jangan biarkan aku hanyut arus kebimbangan ini. Jangan biarkan aku tenggelam dalam keraguan ini

Senja kembali di sudut kelopak mata dunia. Sang Surya mulai memejamkan mata. Sementara aku masih dalam keraguan dan kamu hanya diam menatap mataku tanpa kata yang mampu menawan-ku disini sebelum aku melayang kesana ke tempat yang sering aku ceritakan padamu sebelum tidur.
Aku tertahan keraguan...Apakah benih-benih ini akan berkembang atau mungkin malah layu sebelum berkembang? Aku tidak tahu. Aku bukan Tuhan.

*****
Aku memohon kepada Tuhan sebelum kamu benar-benar pergi

"Jangan biarkan benih-benih ini layu sebelum berkembang. berkembanglah pada waktunya"

Kami saling menatap tidak terlalu dekat. Waktu membisu menahan kami. kepergianmu beberapa menit lagi menandakan aku bersamamu hanya beberapa menit lagi. Kereta yang akan mengantarmu sudah singgah pada peron-nya. 

"Kapan keretamu berangkat?"

"17.45"

Mata-ku sibuk. Sibuk mencari waktu. Aku lupa membawa jam tanganku. Beruntung ada jam dinding besar melekat pada tembok kokoh stasiun tua ini bahkan lebih tua dari aku.
Tubuh jam itu menunjukan waktu "17.30" yang berarti aku hanya mempunyai limabelas menit lagi untuk mengatakan. Entahlah aku harus mengatakan apa. Setidaknya kamu mengetahui apa yang aku rasakan.

*****
Aku hanya memiliki limabelas menit untuk menatapmu disini karena setelah limabelas menit aku akan kesana. Ke tempat yang aku ceritakan kepadamu sebelum menyalakan mimpi. Entah kapan aku harus kembali disini bersamamu. Aku bukan Tuhan. Mungkin bisa jadi aku tak akan kembali disini atau mungkin kamu tidak bersamaku saat kembali dan bisa jadi aku yang tidak bersamamu saat kembali. Itu hanya kemungkinan.

*****
Langit hadirkan mendung yang tak terduga oleh kami. limabelas menit berubah sepeluh menit kemudian lima menit. Wanita itu memeluk tubuhku hangat diantara riuh stasiun tua. Air mulai menetes diantara kelopak mata. Semesta menangis mengiring kepergianmu. Kamu pun menangis bersama semesta. Kamu menangis dalam pelukkan-ku. Kamu menangis di dada-ku. Kini semesta dan kamu membuatku benar-benar basah.

"Jaga dirimu baik-baik disana!"

Hening sesaat...kamu sahdu menangis.

"Kamu juga baik-baik disini" dengan suara parau kamu mengatakannya

Aku hanya sanggup menahanmu disini. Melepasmu di ujung peron stasiun tua itu. Terlintas bayang wanita itu ketika rindu mengguyur tubuhku dengan rasa sesal yang semestinya kukatakan. Kenapa penyesalan selalu datang di akhir? Apa itu sebabnya ada penyesalan? Apa ini akhir dari kisahku bersamanya? Entahlah. Aku bukan Tuhan.

Di bawah naungan senja Jakarta
Di atas rel kereta ini aku menitip rindu untukmu disana...