Aku menatap mata-mu yang penuh ragu, penuh dengan kebimbangan. Mengapa? Entahlah aku tidak tahu. Mungkin kamu bisa mengatakannya padaku jika kamu mau. Katakanlah. Kamu ingin menangis? Menangislah di dada-ku. Kamu ingin tersenyum? Tersenyumlah di bibirku atau kamu ingin mengatakan? Katakanlah cinta padaku. Aku bisa mengahadirkan-nya padamu. Katakanlah!
Katakanlah yang kau mau
Katakanlah yang kau ingin
Aku merindukan kamu yang dulu... -DRIVE, Katakanlah-
Aku berada dalam ragu. Aku di titik kebimbangan. Apa kamu merasakan hal yang sama seperti-ku, ketika kamu menahan getaran suka? Cobalah kamu lihat dalam diriku. Penuh dengan sosok dirimu. Cobalah gunakan perasaan-mu. Cobalah gunakan kepekaanmu.
Aku ragu...Aku ragu untuk bilang aku suka kamu
Aku ragu...Aku ragu untuk katakan aku cinta kamu
Aku mohon jangan biarkan aku hanyut arus kebimbangan ini. Jangan biarkan aku tenggelam dalam keraguan ini
Senja kembali di sudut kelopak mata dunia. Sang Surya mulai memejamkan mata. Sementara aku masih dalam keraguan dan kamu hanya diam menatap mataku tanpa kata yang mampu menawan-ku disini sebelum aku melayang kesana ke tempat yang sering aku ceritakan padamu sebelum tidur.
Aku tertahan keraguan...Apakah benih-benih ini akan berkembang atau mungkin malah layu sebelum berkembang? Aku tidak tahu. Aku bukan Tuhan.
*****
Aku memohon kepada Tuhan sebelum kamu benar-benar pergi
"Jangan biarkan benih-benih ini layu sebelum berkembang. berkembanglah pada waktunya"
Kami saling menatap tidak terlalu dekat. Waktu membisu menahan kami. kepergianmu beberapa menit lagi menandakan aku bersamamu hanya beberapa menit lagi. Kereta yang akan mengantarmu sudah singgah pada peron-nya.
"Kapan keretamu berangkat?"
"17.45"
Mata-ku sibuk. Sibuk mencari waktu. Aku lupa membawa jam tanganku. Beruntung ada jam dinding besar melekat pada tembok kokoh stasiun tua ini bahkan lebih tua dari aku.
Tubuh jam itu menunjukan waktu "17.30" yang berarti aku hanya mempunyai limabelas menit lagi untuk mengatakan. Entahlah aku harus mengatakan apa. Setidaknya kamu mengetahui apa yang aku rasakan.
*****
Aku hanya memiliki limabelas menit untuk menatapmu disini karena setelah limabelas menit aku akan kesana. Ke tempat yang aku ceritakan kepadamu sebelum menyalakan mimpi. Entah kapan aku harus kembali disini bersamamu. Aku bukan Tuhan. Mungkin bisa jadi aku tak akan kembali disini atau mungkin kamu tidak bersamaku saat kembali dan bisa jadi aku yang tidak bersamamu saat kembali. Itu hanya kemungkinan.
*****
Langit hadirkan mendung yang tak terduga oleh kami. limabelas menit berubah sepeluh menit kemudian lima menit. Wanita itu memeluk tubuhku hangat diantara riuh stasiun tua. Air mulai menetes diantara kelopak mata. Semesta menangis mengiring kepergianmu. Kamu pun menangis bersama semesta. Kamu menangis dalam pelukkan-ku. Kamu menangis di dada-ku. Kini semesta dan kamu membuatku benar-benar basah.
"Jaga dirimu baik-baik disana!"
Hening sesaat...kamu sahdu menangis.
"Kamu juga baik-baik disini" dengan suara parau kamu mengatakannya
Aku hanya sanggup menahanmu disini. Melepasmu di ujung peron stasiun tua itu. Terlintas bayang wanita itu ketika rindu mengguyur tubuhku dengan rasa sesal yang semestinya kukatakan. Kenapa penyesalan selalu datang di akhir? Apa itu sebabnya ada penyesalan? Apa ini akhir dari kisahku bersamanya? Entahlah. Aku bukan Tuhan.
Di bawah naungan senja Jakarta
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar