12/29/2013

Dogma

aku menguap kemudian meluap
aku mengerak tanpa gerak
aku layu kemudian membeku

rindu adalah sebait puisi yang dihembuskan angin kepadamu dari aku yang merindu
cinta adalah selarik pusi yang disenandungkan pujangga kepadamu dari aku yang mencinta

aku adalah korban dogma kebodohan. tetapi maaf aku merindumu. tetapi maaf aku mencintaimu.

Kelu

aku diam. kamu diam
kamu diam. aku demikian.
aku. kamu berselimut hangat dalam diam dan tanpa kata
aku. kamu hanya mampu menanam rasa dan tanpa menuai rasa
aku. kamu saling memanah. saling membunuh dengan hembusan nafas

bibir ini tak bergerak. rongga-rongga tak mau bersuara
hati bergerak. bibir terdiam
gerak salah tingkah tak karuan.


Tubuh Nostalgia

Aku hanya sebuah lembaran kata yang membeku
diam tidak bergerak. mengerak pada sebuah dasar nostalgia
Kamu hanya sepenggal larik yang berhamburan mengisi ruang hambar
menggeliat. tidak diam dalam sebuah dasar yang ku-sebut nostalgia
Aku. kamu terjebak senandung jemu. menjamu ketakutan
membuat pahit susu mengalahkan pahit jamu.
bibirku getir minta ampun menyaksikanmu merabu-rubu tubuh nostalgiaku.
tubuhku tegang minta ampun. bisakah kau hentikan?

Desember 2013


Residu

Kecup rindu aku pada Mahakarya-mu
Edelweis yang terhampar memanggilku lirih
untuk memelukmu penuh erat
Gemericik menenggelamkan tubuhku pada kesucian
Nafas yang tercumbu membuahi aku. Aku berdetik dan waktu berdetak meninggalkan residu rindu pada sejarah.
Ini tak lagi sangsi. Ini tak lagi hasrat
Aku merindukan Mahakarya-mu

Bekasi, Desember 2013

12/20/2013

The Alley of the Kiss

The Alley of the Kiss terletak di tengah-tengah kota Guanajuanto. Inilah kisah sudut romantisme. Tragedi sepasang kekasih.

Guanajuato berkembang selama era kolonial untuk tambang emas dan perak yang besar. Banyak orang Spanyol menetap di daerah ini untuk membuat kekayaan besar dengan memanfaatkan kekayaan alam ini.
Guanajuato secara luas dikenal karena keindahan arsitektur dan kekayaan budayanya . Untuk alasan itu, dianggap Ibukota Kebudayaan Meksiko.

Terlepas dari kekayaan keindahan dan kebudayaan, Guanajuato juga memiliki kisah legenda tragis untuk sepasang sejoli yang pernah mengenyam kisah cinta disana.
Legenda menyebutkan, seorang gadis cantik bernama Ana senang berdiri di balkon rumahnya di kota Guanajuato, sekadar untuk melihat orang lalu-lalang di sebuah gang yang bernama Callejon del Beso. Callejon del Beso hanya memiliki lebar 68 sentimeter dan terdapat dua balkon rumah yang berdekatan, balkon yang ideal untuk sepasang kekasih menempelkan sebuah kecupan.

Ana adalah seorang dari bangsa Spanyol yang tinggal di sisi kiri jalan gang Callejon del Beso. Ayah Ana, Antonio de la Parra ingin seseorang pria kaya dari kelas bangsawan untuk menikahi putrinya. Don Antonio de la Parra , yang telah menderita penolakan elit di Asturias (tempat kelahirannya) mempunyai ambisi untuk mempermalukan semua orang yang telah mempermalukan dirinya selama masa-masa kecilnya yang miskin. Dalam rangka untuk memenuhi ambisi ini, ia membutuhkan gelar bangsawan. Untuk mencapai itu, ia berencana untuk Ana, putri satu-satunya, untuk menikah dengan Marquis of Linares.

Dengan sukacita dan dukacita, Ana menerima kewajibannya untuk memenuhi ambisi ayahnya yang ingin menjadi bangsawan, itulah sebabnya dia harus menyembunyikan cinta sejatinya secara rahasia.

*****

Suatu hari, matanya tertuju pada seorang pria yang melintas di jalan gang dekat rumahnya. Pria itu benama Carlos. Carlos ini langsung jatuh hati pada pandangan pertama saat melihat Ana, begitu pula dengan Ana ketika pertama kali melihat Carlos. This is First Sigh.

Mereka tidak berani saling menyapa, debar cinta mereka hanya sebatas selayang pandang. Hanya selayang memandang mereka memberanikan diri mereka terjatuh untuk membangun sebuah kisah cinta. Akhirnya Carlos memberanikan diri untuk menyapa Ana melalui sebuah senyum sederhana. Betapa bahagianya Carlos saat senyumnya dibalas oleh Ana. Semenjak saat itu, mereka mulai berbincang dan akhirnya menjalin tali asmara.

Hubungan mereka sampai pada saatnya Carlos mendatangi ibu Ana dan meminta restu untuk menikahi buah hatinya yang sangat ia cintai. Sang ibu yang melihat kesungguhan Carlos, menyetujui hubungan mereka. Namun kisah cinta ini tidak bisa semudah itu untuk berakhir dengan bahagia karena terhalang oleh tebalnya ambisi Antonio de la Parra yang ingin menikahi putri sematawayang-nya dengan Marquis of Linares yang berlatar belakang bangsawan, tidak seperti Carlos yang hanya seorang penambang miskin. Tentu saja hal itu membuat ayah Ana tidak ingin dia untuk menikah dengan Carlos, karena Carlos sangat miskin.

Sang ayah memperingatkan putrinya agar memutuskan hubungannya dengan Carlos dan tidak menemui Carlos kembali. .Tidak ingin memperpanjang masalah, Ana pun menuruti dengan sukacita dan dukacita keputusan yang dimiliki ayahnya. Ana menerima dengan suka dengan dalil ia bisa membahagiakan orang tuanya setelah menikah dengan seorang bangsawan, namun ini menjadi sebuah duka untuk Ana karena ia tidak bisa memperoleh kebahagiannya sendiri dengan kekasih yang dicintai-nya.Dilema.

Namun cinta Carlos dan Ana tidak bisa semudah itu berakhir. Dengan bermodalkan uang yang ia kumpulkan dari hasil berkerja di pertambangan, Carlos  akhirnya memutuskan untuk menyewa rumah yang ada di depan rumah Ana tepatnya di sisi kanan jalan gang Callejon del Beso. Uniknya, balkon Carlos dan Ana sangat berdekatan, malah hampir tidak berjarak.

Suatu malam sambil berdiri di balkon-nya Ana melihat jendela di depan rumahnya terbuka, Ana penasaran siapa tetangga baru yang mendiami rumah di depan rumahnya tersebut. Seketika Ana terkejut ketika melihat sosok Carlos menyibak tirai jendela rumah yang berada di depan rumahnya.
“Carlos, eres tú?”
“Sí que soy yo Ana, amante de Carlos”
Gang Callejon del Beso begitu sesak, kedua balkon mereka kini hampir saling menyentuh bahkan bibir mereka pun sudah saling menyentuh. Pada setiap delapan malam secara rahasia, secara sembunyi-sembunyi mereka kembali menumbuhkan jalinan cinta mereka yang terhalang.

Suatu malam sang ayah terkejut menemui para pecinta muda, ia menemukan ketika mereka berciuman, bahu-membahu membangun cinta menjangkau dari balkon rumah.
Antonio de la Parra yang menyaksikan hal itu merasa kecolongan dan sangat murka atas kelakuan anaknya.
Sang ayah kembali memperingati putrinya,
"Si mi padre vio que besarlo otra vez, papá te va a matar."
Ana tidak mengambil serius ultimatum ayahnya, Ana tidak yakin ayahnya akan melakukan hal sekeji itu, membunuh darah dagingnya sendiri.

Malam berikutnya. Na’as untuk mereka, sang ayah terbangun dan mendengar mereka sedang berciuman berdua. Antonio de la Parra yang naik pitam kemudian menuju dapur mengambil sebuah pisau. Terlanjur terbakar amarah, ayahnya ingin menikam punggung Ana dengan pisau yang ia bawa. Carlos melompat untuk melindungi pacarnya yang cantik, tetapi malah jatuh ke tanah dan memtahkan lehernya. Ana mencoba untuk membantu Carlos, melihat tingkah putrinya Antonio de la Parra menjadi kewalahan dengan amarahnya dan menaruh belati tepat di hati Ana.

Antonio de la Parra segera menyesali perbuatannya, tetapi sudah terlambat, Ana dan Carlos terlanjur mati dengan cinta sejati. Carlos tak kuasa direndam rindu, diberikan satu ciuman terakhir dari kekasih-nya tercinta, kemudian Carlos memutuskan untuk bunuh diri di pertambangan La Valenciana menemui kekasih-nya di keabadian. Dan sang ayah Antonio de la Parra terlanjur menjadi gila dan meninggal beberapa bulan kemudian.
Dan orang-orang dari negara bagian Guanajuato percaya bahwa pada malam-malam tertentu, pasangan sejoli itu sering terlihat saling memeluk dan berciuman di atas balkon tersebut.

Konon, The Alley of the Kiss yang berada di Kota Guanajuato, dipercaya bisa membawa kebahagian. Jika pasangan berciuman di bawah balkon tersebut, maka akan dianugerahi kebahagian selama 15 tahun. Namun jika pasangan melewati The Alley of the Kiss tanpa berciuman, maka mereka akan dikutuk kesengsaraan selama 7 tahun. Sekarang, dikatakan bahwa semua pasangan cinta yang mengunjungi situs ini harus berciuman pada langkah ketiga, yang dicat merah.

Percaya/Tidak percaya


.

12/09/2013

MAELANI

Aku menggantinya dengan Kamu. 

Hampir seperti wanita pemimpi yang aku ceritakan kepada kalian. Aku seperti bebas merdeka mengenalnya. Kalian bisa memanggilnya Mae~ Ia hadir dengan tidak ada unsur kesengajaan, tanpa maksud apapun aku menyentuhnya dan kita berkenal hingga dekat seperti ini. Terserah kalian beranggapan apa tentang kita, tetapi itulah kita sekarang. Berdekatan. Bahkan kini kita saling bersentuhan dengan saling menatapkan bibir.
Aku menyukai Mae seperti aku mencintai dia, seperti ada rindu yang terselesaikan ketika aku dengan Mae. Ia serupa namun tentu tidak sama ada perbedaan diantara mereka dari mulai makanan favorit. Lagu kesukaan bahkan mimpi mereka berbeda walaupun Mae wanita pemimpi seperti dia, tetapi sudahlah-aku tidak ingin membicarakan dia kepadamu, mungkin ketika waktu itu telah tiba akan aku ceritakan kepadamu siapa dia.
“Kenalkan ini Mae!”
Aku menyentuhnya tanpa sengaja, kamu menabrak-ku tanpa ada niatan sebelumnya. Perkenalan kita seperti noda yang tersirat pada baju-ku ketika acara malam keakraban itu. Mungkin noda pemberianmu itu sudah aku hapuskan dari baju-ku tetapi tatapan pemberianmu tersimpan rapi di ingatan-ku sebagai manusia. This is First Sigh. Oh...hentikan tatapanmu Mae!!!

*****

Esok aku akan kembali koma tunggu aku disana titik dua bintang

Dia datang kembali seperti selarik puisi-ku yang hampir genap dengan nafas Mae. Ketika nafas kami hampir menyatu seirama dia datang untuk puisi-ku. Entah apa yang harus aku lakukan ketika semua berhenti bergerak dan bernafas. Terhenti pada sebuah koma, lalu bagaimana dengan Mae yang telah menemani rindu-ku?
Ini seperti meluapkan namun melupakan. Dilematis-
Dan kini tiba waktu-ku menunggu hadir-nya. Ini pilihan berat yang harus kulakukakan. Melupakan Mae untuk menunggu kehadirannya.
Maafkan aku Mae- I realy Love You
Aku menunggu hadirnya di tempat aku melepas-nya dengan semesta yang menangis, di ujung peron yang aku titipkan rindu untuk-nya.
Jam berdetik pukul 16.10 tidak lebih.tidak kurang. Senja mulai samar samar membias. Aku menunggu di ruang tunggu kedatangan. Bergetar handphone-ku. Mae memanggil sahdu dengan dering Sahabat Jadi Cinta. Nada dering handphone-ku selalu itu dan itu itu saja. Aku tidak ada waktu untuk menggantinya. Namun selalu ada waktu untuk menggantikan sosok-nya. Wanita pengganti mimpi-mimpi-nya ketika malam sebelum beranjak tidur. Mae- benar Mae yang mampu mengganti-nya.
Kereta yang menghadirkannya datang dengan deru. Aku masih tidak bergerak dan tak tahu harus bersikap apa. Mataku mencari sebuah raga yang mengenaliku. Hingga aku menemukannya aku masih tidak bergerak dan tidak tahu harus apa...

*****

Kamu datang seperti nafas yang terlahir untuk menyelesaikan selarik puisi-ku. Berhembus dengan gerai rambut yeng bergejolak seperti jiwaku yang terpanah tatapanmu. Mata dengan bola berwarna hitam legam membius-ku dalam dalam hingga aku lupa noda yang mencemar tubuhku.

“...Benarkah angin sedang tak mencoba menggoda helai rambutmu yang bergejolak...”
“...Benarkah kumbang sedang tak mencoba hinggap pada bibirmu yang manis...”
“...Benarkah cahaya sedang tak mencoba merusak matamu yang indah...”

“Maaf” mengusap baju putih-ku yang terkena noda sirup merah darah dengan sehelai tissue
“Oh...tidak apa-apa”
“Aku tidak sengaja, maaf yaa”
Aku hanya hening, matanya memanahku dengan senyum tipismu yang sesaat, kemudian pecah...
“Aku Maelani Anggraeini, panggil saja Mae.”
Aku menyambut tangan lembutnya “Namaku Senja Utomo, panggil aku Senja”
Kamu memang seperti senja yang tak begitu indah untuk sebuah kegagahan. Aku melihat keredupan di matamu. Aku melihat itu di Senja, seperti selarik puisi yang belum genap. Apa aku bisa membantumu menyelesaikan puisimu dengan nafasku?
Oh...Hentikan tatapanmu Mae!!!
Aku menatapmu.Kamu memanahku. Aku mengelak namun tetap tidak bisa untuk aku menolak. Aku terluka. Sinarku redup. Aku kehilangan bintang-ku. Aku kehilangan warna-ku. Apakah kamu bisa menggantikannya dan menyelesaikan puisi ini dengan nafasm