aku menguap kemudian meluap
aku mengerak tanpa gerak
aku layu kemudian membeku
rindu adalah sebait puisi yang dihembuskan angin kepadamu dari aku yang merindu
cinta adalah selarik pusi yang disenandungkan pujangga kepadamu dari aku yang mencinta
aku adalah korban dogma kebodohan. tetapi maaf aku merindumu. tetapi maaf aku mencintaimu.
12/29/2013
Kelu
aku diam. kamu diam
kamu diam. aku demikian.
aku. kamu berselimut hangat dalam diam dan tanpa kata
aku. kamu hanya mampu menanam rasa dan tanpa menuai rasa
aku. kamu saling memanah. saling membunuh dengan hembusan nafas
bibir ini tak bergerak. rongga-rongga tak mau bersuara
hati bergerak. bibir terdiam
gerak salah tingkah tak karuan.
kamu diam. aku demikian.
aku. kamu berselimut hangat dalam diam dan tanpa kata
aku. kamu hanya mampu menanam rasa dan tanpa menuai rasa
aku. kamu saling memanah. saling membunuh dengan hembusan nafas
bibir ini tak bergerak. rongga-rongga tak mau bersuara
hati bergerak. bibir terdiam
gerak salah tingkah tak karuan.
Tubuh Nostalgia
Aku hanya sebuah lembaran kata yang membeku
diam tidak bergerak. mengerak pada sebuah dasar nostalgia
Kamu hanya sepenggal larik yang berhamburan mengisi ruang hambar
menggeliat. tidak diam dalam sebuah dasar yang ku-sebut nostalgia
Aku. kamu terjebak senandung jemu. menjamu ketakutan
membuat pahit susu mengalahkan pahit jamu.
bibirku getir minta ampun menyaksikanmu merabu-rubu tubuh nostalgiaku.
tubuhku tegang minta ampun. bisakah kau hentikan?
Desember 2013
diam tidak bergerak. mengerak pada sebuah dasar nostalgia
Kamu hanya sepenggal larik yang berhamburan mengisi ruang hambar
menggeliat. tidak diam dalam sebuah dasar yang ku-sebut nostalgia
Aku. kamu terjebak senandung jemu. menjamu ketakutan
membuat pahit susu mengalahkan pahit jamu.
bibirku getir minta ampun menyaksikanmu merabu-rubu tubuh nostalgiaku.
tubuhku tegang minta ampun. bisakah kau hentikan?
Desember 2013
Residu
Kecup rindu aku pada Mahakarya-mu
Edelweis yang terhampar memanggilku lirih
untuk memelukmu penuh erat
Gemericik menenggelamkan tubuhku pada kesucian
Nafas yang tercumbu membuahi aku. Aku berdetik dan waktu berdetak meninggalkan residu rindu pada sejarah.
Ini tak lagi sangsi. Ini tak lagi hasrat
Aku merindukan Mahakarya-mu
Bekasi, Desember 2013
Edelweis yang terhampar memanggilku lirih
untuk memelukmu penuh erat
Gemericik menenggelamkan tubuhku pada kesucian
Nafas yang tercumbu membuahi aku. Aku berdetik dan waktu berdetak meninggalkan residu rindu pada sejarah.
Ini tak lagi sangsi. Ini tak lagi hasrat
Aku merindukan Mahakarya-mu
Bekasi, Desember 2013
12/20/2013
The Alley of the Kiss
The Alley of the
Kiss
terletak di tengah-tengah kota Guanajuanto.
Inilah kisah sudut romantisme. Tragedi sepasang kekasih.
Guanajuato
berkembang selama era kolonial untuk tambang emas dan perak yang besar. Banyak
orang Spanyol menetap di daerah ini untuk membuat kekayaan besar dengan
memanfaatkan kekayaan alam ini.
Guanajuato
secara luas dikenal karena keindahan arsitektur dan kekayaan budayanya . Untuk
alasan itu, dianggap Ibukota Kebudayaan Meksiko.
Terlepas
dari kekayaan keindahan dan kebudayaan, Guanajuato juga memiliki kisah legenda
tragis untuk sepasang sejoli yang pernah mengenyam kisah cinta disana.
Legenda menyebutkan, seorang gadis cantik
bernama Ana senang berdiri di balkon
rumahnya di kota Guanajuato, sekadar untuk melihat orang lalu-lalang di sebuah
gang yang bernama Callejon del Beso. Callejon
del Beso hanya memiliki
lebar 68 sentimeter dan terdapat dua balkon rumah yang berdekatan, balkon yang
ideal untuk sepasang kekasih menempelkan sebuah kecupan.
Ana adalah seorang
dari bangsa Spanyol yang tinggal di sisi kiri jalan gang Callejon del Beso. Ayah Ana, Antonio de la
Parra ingin seseorang pria kaya dari kelas
bangsawan untuk menikahi putrinya. Don
Antonio de la Parra , yang telah menderita penolakan elit di Asturias (tempat kelahirannya) mempunyai
ambisi untuk mempermalukan semua orang yang telah mempermalukan dirinya selama
masa-masa kecilnya yang miskin. Dalam rangka untuk memenuhi ambisi ini, ia
membutuhkan gelar bangsawan. Untuk mencapai itu, ia berencana untuk Ana, putri satu-satunya, untuk menikah
dengan Marquis of Linares.
Dengan
sukacita dan dukacita, Ana menerima
kewajibannya untuk memenuhi ambisi ayahnya yang ingin menjadi bangsawan, itulah
sebabnya dia harus menyembunyikan cinta sejatinya secara rahasia.
*****
Suatu hari, matanya tertuju pada seorang pria
yang melintas di jalan gang dekat rumahnya. Pria itu benama Carlos. Carlos ini langsung jatuh hati
pada pandangan pertama saat melihat Ana,
begitu pula dengan Ana ketika pertama
kali melihat Carlos. This is First Sigh.
Mereka tidak berani saling menyapa, debar cinta
mereka hanya sebatas selayang pandang. Hanya selayang memandang mereka
memberanikan diri mereka terjatuh untuk membangun sebuah kisah cinta. Akhirnya Carlos memberanikan diri untuk menyapa Ana melalui sebuah senyum sederhana.
Betapa bahagianya Carlos saat
senyumnya dibalas oleh Ana. Semenjak
saat itu, mereka mulai berbincang dan akhirnya menjalin tali asmara.
Hubungan mereka sampai pada saatnya Carlos mendatangi ibu Ana dan meminta restu untuk menikahi
buah hatinya yang sangat ia cintai. Sang ibu yang melihat kesungguhan Carlos, menyetujui hubungan mereka.
Namun kisah cinta ini tidak bisa semudah itu untuk berakhir dengan bahagia
karena terhalang oleh tebalnya ambisi Antonio
de la Parra yang
ingin menikahi putri sematawayang-nya dengan Marquis of Linares yang berlatar belakang bangsawan, tidak seperti Carlos yang hanya seorang penambang
miskin. Tentu saja hal itu membuat ayah Ana tidak ingin dia untuk menikah
dengan Carlos, karena Carlos sangat miskin.
Sang
ayah memperingatkan putrinya agar memutuskan hubungannya dengan Carlos dan tidak menemui Carlos kembali. .Tidak ingin memperpanjang masalah, Ana pun menuruti dengan sukacita dan
dukacita keputusan yang dimiliki ayahnya. Ana
menerima dengan suka dengan dalil ia bisa membahagiakan orang tuanya setelah
menikah dengan seorang bangsawan, namun ini menjadi sebuah duka untuk Ana karena ia tidak bisa memperoleh
kebahagiannya sendiri dengan kekasih yang dicintai-nya.Dilema.
Namun cinta Carlos dan Ana tidak bisa semudah itu berakhir. Dengan bermodalkan uang yang ia kumpulkan dari hasil berkerja di pertambangan, Carlos akhirnya memutuskan untuk menyewa rumah yang ada di depan rumah Ana tepatnya di sisi kanan jalan gang Callejon del Beso. Uniknya, balkon Carlos dan Ana sangat berdekatan, malah hampir tidak berjarak.
Suatu
malam sambil berdiri di balkon-nya Ana
melihat jendela di depan rumahnya terbuka, Ana
penasaran siapa tetangga baru yang mendiami rumah di depan rumahnya
tersebut. Seketika Ana terkejut
ketika melihat sosok Carlos menyibak
tirai jendela rumah yang berada di depan rumahnya.
“Carlos, eres
tú?”
“Sí que soy yo
Ana, amante de Carlos”
Gang
Callejon del Beso begitu sesak, kedua balkon mereka kini
hampir saling menyentuh bahkan bibir mereka pun sudah saling menyentuh. Pada
setiap delapan malam secara rahasia, secara sembunyi-sembunyi mereka kembali
menumbuhkan jalinan cinta mereka yang terhalang.
Suatu
malam sang ayah terkejut menemui para pecinta muda, ia menemukan ketika mereka
berciuman, bahu-membahu membangun cinta menjangkau dari balkon rumah.
Antonio de la
Parra yang
menyaksikan hal itu merasa kecolongan dan sangat murka atas kelakuan anaknya.
Sang
ayah kembali memperingati putrinya,
"Si mi
padre vio que besarlo otra vez, papá te va a matar."
Ana tidak mengambil
serius ultimatum ayahnya, Ana tidak
yakin ayahnya akan melakukan hal sekeji itu, membunuh darah dagingnya sendiri.
Malam
berikutnya. Na’as untuk mereka, sang
ayah terbangun dan mendengar mereka sedang berciuman berdua. Antonio de la Parra yang naik pitam kemudian menuju dapur
mengambil sebuah pisau. Terlanjur terbakar amarah, ayahnya ingin menikam
punggung Ana dengan pisau yang ia bawa.
Carlos melompat untuk
melindungi pacarnya yang cantik, tetapi malah jatuh ke tanah dan memtahkan
lehernya. Ana mencoba untuk membantu Carlos, melihat tingkah putrinya Antonio de la Parra menjadi kewalahan
dengan amarahnya dan menaruh belati tepat di hati Ana.
Antonio de la
Parra
segera menyesali perbuatannya, tetapi sudah terlambat, Ana dan Carlos terlanjur
mati dengan cinta sejati. Carlos tak
kuasa direndam rindu, diberikan satu ciuman terakhir dari kekasih-nya tercinta,
kemudian Carlos memutuskan untuk
bunuh diri di pertambangan La Valenciana
menemui kekasih-nya di keabadian. Dan sang ayah Antonio de la Parra terlanjur menjadi gila dan meninggal beberapa
bulan kemudian.
Dan
orang-orang dari negara bagian Guanajuato percaya bahwa pada malam-malam
tertentu, pasangan sejoli itu sering terlihat saling memeluk dan berciuman di
atas balkon tersebut.
Konon, The
Alley of the Kiss yang berada di Kota Guanajuato, dipercaya bisa membawa
kebahagian. Jika pasangan berciuman di bawah balkon tersebut, maka akan
dianugerahi kebahagian selama 15 tahun. Namun jika pasangan melewati The Alley of the Kiss tanpa berciuman,
maka mereka akan dikutuk kesengsaraan selama 7 tahun. Sekarang,
dikatakan bahwa semua pasangan cinta yang mengunjungi situs ini harus berciuman
pada langkah ketiga, yang dicat merah.
12/09/2013
MAELANI
Aku menggantinya dengan Kamu.
Hampir seperti wanita pemimpi yang aku ceritakan
kepada kalian. Aku seperti bebas merdeka mengenalnya. Kalian bisa memanggilnya
Mae~ Ia hadir dengan tidak ada unsur kesengajaan, tanpa maksud apapun aku
menyentuhnya dan kita berkenal hingga dekat seperti ini. Terserah kalian
beranggapan apa tentang kita, tetapi itulah kita sekarang. Berdekatan. Bahkan
kini kita saling bersentuhan dengan saling menatapkan bibir.
Aku menyukai Mae seperti aku mencintai dia,
seperti ada rindu yang terselesaikan ketika aku dengan Mae. Ia serupa namun
tentu tidak sama ada perbedaan diantara mereka dari mulai makanan favorit. Lagu
kesukaan bahkan mimpi mereka berbeda walaupun Mae wanita pemimpi seperti dia,
tetapi sudahlah-aku tidak ingin membicarakan dia kepadamu, mungkin ketika waktu
itu telah tiba akan aku ceritakan kepadamu siapa dia.
“Kenalkan ini Mae!”
Aku menyentuhnya tanpa sengaja, kamu menabrak-ku
tanpa ada niatan sebelumnya. Perkenalan kita seperti noda yang tersirat pada
baju-ku ketika acara malam keakraban itu. Mungkin noda pemberianmu itu sudah
aku hapuskan dari baju-ku tetapi tatapan pemberianmu tersimpan rapi di
ingatan-ku sebagai manusia. This is First Sigh. Oh...hentikan
tatapanmu Mae!!!
*****
Esok aku akan kembali koma tunggu aku disana
titik dua bintang
Dia datang kembali seperti selarik puisi-ku yang
hampir genap dengan nafas Mae. Ketika nafas kami hampir menyatu seirama dia
datang untuk puisi-ku. Entah apa yang harus aku lakukan ketika semua berhenti
bergerak dan bernafas. Terhenti pada sebuah koma, lalu bagaimana dengan Mae
yang telah menemani rindu-ku?
Ini seperti meluapkan namun melupakan.
Dilematis-
Dan kini tiba waktu-ku menunggu hadir-nya. Ini
pilihan berat yang harus kulakukakan. Melupakan Mae untuk menunggu kehadirannya.
Maafkan aku Mae- I realy Love You
Aku menunggu hadirnya di tempat aku melepas-nya
dengan semesta yang menangis, di ujung peron yang aku titipkan rindu untuk-nya.
Jam berdetik pukul 16.10 tidak lebih.tidak
kurang. Senja mulai samar samar membias. Aku menunggu di ruang tunggu
kedatangan. Bergetar handphone-ku. Mae memanggil sahdu dengan dering Sahabat
Jadi Cinta. Nada dering handphone-ku selalu itu dan itu itu saja. Aku tidak
ada waktu untuk menggantinya. Namun selalu ada waktu untuk menggantikan
sosok-nya. Wanita pengganti mimpi-mimpi-nya ketika malam sebelum beranjak
tidur. Mae- benar Mae yang mampu mengganti-nya.
Kereta yang menghadirkannya datang dengan deru.
Aku masih tidak bergerak dan tak tahu harus bersikap apa. Mataku mencari sebuah
raga yang mengenaliku. Hingga aku menemukannya aku masih tidak bergerak dan
tidak tahu harus apa...
*****
Kamu datang seperti nafas yang terlahir untuk
menyelesaikan selarik puisi-ku. Berhembus dengan gerai rambut yeng bergejolak
seperti jiwaku yang terpanah tatapanmu. Mata dengan bola berwarna hitam legam
membius-ku dalam dalam hingga aku lupa noda yang mencemar tubuhku.
“...Benarkah angin sedang tak mencoba menggoda
helai rambutmu yang bergejolak...”
“...Benarkah kumbang sedang tak mencoba hinggap
pada bibirmu yang manis...”
“...Benarkah cahaya sedang tak mencoba merusak
matamu yang indah...”
“Maaf” mengusap baju putih-ku yang terkena noda
sirup merah darah dengan sehelai tissue
“Oh...tidak apa-apa”
“Aku tidak sengaja, maaf yaa”
Aku hanya hening, matanya memanahku dengan
senyum tipismu yang sesaat, kemudian pecah...
“Aku Maelani Anggraeini, panggil saja Mae.”
Aku menyambut tangan lembutnya “Namaku Senja
Utomo, panggil aku Senja”
Kamu memang seperti senja yang tak begitu indah
untuk sebuah kegagahan. Aku melihat keredupan di matamu. Aku melihat itu di
Senja, seperti selarik puisi yang belum genap. Apa aku bisa membantumu
menyelesaikan puisimu dengan nafasku?
Oh...Hentikan tatapanmu Mae!!!
Aku menatapmu.Kamu memanahku. Aku mengelak namun
tetap tidak bisa untuk aku menolak. Aku terluka. Sinarku redup. Aku kehilangan
bintang-ku. Aku kehilangan warna-ku. Apakah kamu bisa menggantikannya dan
menyelesaikan puisi ini dengan nafasm
Langganan:
Postingan (Atom)
.jpg)
.jpg)