12/09/2013

MAELANI

Aku menggantinya dengan Kamu. 

Hampir seperti wanita pemimpi yang aku ceritakan kepada kalian. Aku seperti bebas merdeka mengenalnya. Kalian bisa memanggilnya Mae~ Ia hadir dengan tidak ada unsur kesengajaan, tanpa maksud apapun aku menyentuhnya dan kita berkenal hingga dekat seperti ini. Terserah kalian beranggapan apa tentang kita, tetapi itulah kita sekarang. Berdekatan. Bahkan kini kita saling bersentuhan dengan saling menatapkan bibir.
Aku menyukai Mae seperti aku mencintai dia, seperti ada rindu yang terselesaikan ketika aku dengan Mae. Ia serupa namun tentu tidak sama ada perbedaan diantara mereka dari mulai makanan favorit. Lagu kesukaan bahkan mimpi mereka berbeda walaupun Mae wanita pemimpi seperti dia, tetapi sudahlah-aku tidak ingin membicarakan dia kepadamu, mungkin ketika waktu itu telah tiba akan aku ceritakan kepadamu siapa dia.
“Kenalkan ini Mae!”
Aku menyentuhnya tanpa sengaja, kamu menabrak-ku tanpa ada niatan sebelumnya. Perkenalan kita seperti noda yang tersirat pada baju-ku ketika acara malam keakraban itu. Mungkin noda pemberianmu itu sudah aku hapuskan dari baju-ku tetapi tatapan pemberianmu tersimpan rapi di ingatan-ku sebagai manusia. This is First Sigh. Oh...hentikan tatapanmu Mae!!!

*****

Esok aku akan kembali koma tunggu aku disana titik dua bintang

Dia datang kembali seperti selarik puisi-ku yang hampir genap dengan nafas Mae. Ketika nafas kami hampir menyatu seirama dia datang untuk puisi-ku. Entah apa yang harus aku lakukan ketika semua berhenti bergerak dan bernafas. Terhenti pada sebuah koma, lalu bagaimana dengan Mae yang telah menemani rindu-ku?
Ini seperti meluapkan namun melupakan. Dilematis-
Dan kini tiba waktu-ku menunggu hadir-nya. Ini pilihan berat yang harus kulakukakan. Melupakan Mae untuk menunggu kehadirannya.
Maafkan aku Mae- I realy Love You
Aku menunggu hadirnya di tempat aku melepas-nya dengan semesta yang menangis, di ujung peron yang aku titipkan rindu untuk-nya.
Jam berdetik pukul 16.10 tidak lebih.tidak kurang. Senja mulai samar samar membias. Aku menunggu di ruang tunggu kedatangan. Bergetar handphone-ku. Mae memanggil sahdu dengan dering Sahabat Jadi Cinta. Nada dering handphone-ku selalu itu dan itu itu saja. Aku tidak ada waktu untuk menggantinya. Namun selalu ada waktu untuk menggantikan sosok-nya. Wanita pengganti mimpi-mimpi-nya ketika malam sebelum beranjak tidur. Mae- benar Mae yang mampu mengganti-nya.
Kereta yang menghadirkannya datang dengan deru. Aku masih tidak bergerak dan tak tahu harus bersikap apa. Mataku mencari sebuah raga yang mengenaliku. Hingga aku menemukannya aku masih tidak bergerak dan tidak tahu harus apa...

*****

Kamu datang seperti nafas yang terlahir untuk menyelesaikan selarik puisi-ku. Berhembus dengan gerai rambut yeng bergejolak seperti jiwaku yang terpanah tatapanmu. Mata dengan bola berwarna hitam legam membius-ku dalam dalam hingga aku lupa noda yang mencemar tubuhku.

“...Benarkah angin sedang tak mencoba menggoda helai rambutmu yang bergejolak...”
“...Benarkah kumbang sedang tak mencoba hinggap pada bibirmu yang manis...”
“...Benarkah cahaya sedang tak mencoba merusak matamu yang indah...”

“Maaf” mengusap baju putih-ku yang terkena noda sirup merah darah dengan sehelai tissue
“Oh...tidak apa-apa”
“Aku tidak sengaja, maaf yaa”
Aku hanya hening, matanya memanahku dengan senyum tipismu yang sesaat, kemudian pecah...
“Aku Maelani Anggraeini, panggil saja Mae.”
Aku menyambut tangan lembutnya “Namaku Senja Utomo, panggil aku Senja”
Kamu memang seperti senja yang tak begitu indah untuk sebuah kegagahan. Aku melihat keredupan di matamu. Aku melihat itu di Senja, seperti selarik puisi yang belum genap. Apa aku bisa membantumu menyelesaikan puisimu dengan nafasku?
Oh...Hentikan tatapanmu Mae!!!
Aku menatapmu.Kamu memanahku. Aku mengelak namun tetap tidak bisa untuk aku menolak. Aku terluka. Sinarku redup. Aku kehilangan bintang-ku. Aku kehilangan warna-ku. Apakah kamu bisa menggantikannya dan menyelesaikan puisi ini dengan nafasm



Tidak ada komentar:

Posting Komentar