Aku menggantinya dengan Kamu.
Hampir seperti wanita pemimpi yang aku ceritakan
kepada kalian. Aku seperti bebas merdeka mengenalnya. Kalian bisa memanggilnya
Mae~ Ia hadir dengan tidak ada unsur kesengajaan, tanpa maksud apapun aku
menyentuhnya dan kita berkenal hingga dekat seperti ini. Terserah kalian
beranggapan apa tentang kita, tetapi itulah kita sekarang. Berdekatan. Bahkan
kini kita saling bersentuhan dengan saling menatapkan bibir.
Aku menyukai Mae seperti aku mencintai dia,
seperti ada rindu yang terselesaikan ketika aku dengan Mae. Ia serupa namun
tentu tidak sama ada perbedaan diantara mereka dari mulai makanan favorit. Lagu
kesukaan bahkan mimpi mereka berbeda walaupun Mae wanita pemimpi seperti dia,
tetapi sudahlah-aku tidak ingin membicarakan dia kepadamu, mungkin ketika waktu
itu telah tiba akan aku ceritakan kepadamu siapa dia.
“Kenalkan ini Mae!”
Aku menyentuhnya tanpa sengaja, kamu menabrak-ku
tanpa ada niatan sebelumnya. Perkenalan kita seperti noda yang tersirat pada
baju-ku ketika acara malam keakraban itu. Mungkin noda pemberianmu itu sudah
aku hapuskan dari baju-ku tetapi tatapan pemberianmu tersimpan rapi di
ingatan-ku sebagai manusia. This is First Sigh. Oh...hentikan
tatapanmu Mae!!!
*****
Esok aku akan kembali koma tunggu aku disana
titik dua bintang
Dia datang kembali seperti selarik puisi-ku yang
hampir genap dengan nafas Mae. Ketika nafas kami hampir menyatu seirama dia
datang untuk puisi-ku. Entah apa yang harus aku lakukan ketika semua berhenti
bergerak dan bernafas. Terhenti pada sebuah koma, lalu bagaimana dengan Mae
yang telah menemani rindu-ku?
Ini seperti meluapkan namun melupakan.
Dilematis-
Dan kini tiba waktu-ku menunggu hadir-nya. Ini
pilihan berat yang harus kulakukakan. Melupakan Mae untuk menunggu kehadirannya.
Maafkan aku Mae- I realy Love You
Aku menunggu hadirnya di tempat aku melepas-nya
dengan semesta yang menangis, di ujung peron yang aku titipkan rindu untuk-nya.
Jam berdetik pukul 16.10 tidak lebih.tidak
kurang. Senja mulai samar samar membias. Aku menunggu di ruang tunggu
kedatangan. Bergetar handphone-ku. Mae memanggil sahdu dengan dering Sahabat
Jadi Cinta. Nada dering handphone-ku selalu itu dan itu itu saja. Aku tidak
ada waktu untuk menggantinya. Namun selalu ada waktu untuk menggantikan
sosok-nya. Wanita pengganti mimpi-mimpi-nya ketika malam sebelum beranjak
tidur. Mae- benar Mae yang mampu mengganti-nya.
Kereta yang menghadirkannya datang dengan deru.
Aku masih tidak bergerak dan tak tahu harus bersikap apa. Mataku mencari sebuah
raga yang mengenaliku. Hingga aku menemukannya aku masih tidak bergerak dan
tidak tahu harus apa...
*****
Kamu datang seperti nafas yang terlahir untuk
menyelesaikan selarik puisi-ku. Berhembus dengan gerai rambut yeng bergejolak
seperti jiwaku yang terpanah tatapanmu. Mata dengan bola berwarna hitam legam
membius-ku dalam dalam hingga aku lupa noda yang mencemar tubuhku.
“...Benarkah angin sedang tak mencoba menggoda
helai rambutmu yang bergejolak...”
“...Benarkah kumbang sedang tak mencoba hinggap
pada bibirmu yang manis...”
“...Benarkah cahaya sedang tak mencoba merusak
matamu yang indah...”
“Maaf” mengusap baju putih-ku yang terkena noda
sirup merah darah dengan sehelai tissue
“Oh...tidak apa-apa”
“Aku tidak sengaja, maaf yaa”
Aku hanya hening, matanya memanahku dengan
senyum tipismu yang sesaat, kemudian pecah...
“Aku Maelani Anggraeini, panggil saja Mae.”
Aku menyambut tangan lembutnya “Namaku Senja
Utomo, panggil aku Senja”
Kamu memang seperti senja yang tak begitu indah
untuk sebuah kegagahan. Aku melihat keredupan di matamu. Aku melihat itu di
Senja, seperti selarik puisi yang belum genap. Apa aku bisa membantumu
menyelesaikan puisimu dengan nafasku?
Oh...Hentikan tatapanmu Mae!!!
Aku menatapmu.Kamu memanahku. Aku mengelak namun
tetap tidak bisa untuk aku menolak. Aku terluka. Sinarku redup. Aku kehilangan
bintang-ku. Aku kehilangan warna-ku. Apakah kamu bisa menggantikannya dan
menyelesaikan puisi ini dengan nafasm
Tidak ada komentar:
Posting Komentar