“Inilah sudut. ruang dimana kamu memulai rasa kagum kepadanya diam-diam”
“Inilah sudut. ruang dimana kamu memandang senyumnya yang mengembang dengan indah tanpa kamu ketahui”
“Inilah sudut. ruang dimana kamu menyimpan rasa cinta kepadanya tanpa terungkapkan”
“Inilah sudut. ruang yang tidak terlalu sempurna untukmu mendapatkannya”
Pagi ini mentari cerah suhu udara yang terhirup begitu sejuk selepas hujan semalamkicau burung mengiringi langkah anggun dirinya
kamu terbiasa duduk terdiam memperhatikan keindahan setiap pagidi sudut yang tidak terlalu sempurna untuk memandang sebuah keindahankamu duduk bersandar pada sebuah dinding bangunan sekolah. sudut yang kusam dengan warna yang memudar. sudut yang dihiasi pasukan semut merah yang berbaris di dinding menatapmu curiga seakan penuh satu tanya. "sedang apa disitu?" terdengar seperti lirik lagu. namun itulah kenyataannya
Ia terus bergerak melambaikan senyumnya kepada setiap yang menyapanyalangkah dan senyumnya membuat jantungmu berdebar sahdumatanya seakan memanah. menembus di relung hatimu yang terdalam. yang mendasar dalam hatimudirinya mungkin tak pernah tahu tentangmu, karena aku yakin dirinya tidak ingin tahu tentangmumatamu tak berkedip sedetik pun tak berkedipentah unsur apa yang terkandung dalam dirinya. intinya wanita ini membuatmu keracunankeracunan yang membuatmu tergila kepada dirinyaseakan tak sadar kamu perhatikan ia tetap terus berjalan hingga wujudnya pun perlahan lahan menghilang di anak tangga yang ia tapak
****
lonceng istirahat berbunyi merduterdengar sahdu untuk kami sebagai pelajarwaktu yang tidak terlalu lama untuk bebas. waktu tersingkat dalam sekolah. waktu senggang untuk kami membuat pekerjaan rumah. waktu kami untuk makan, minum, melepas tawa atau bahkan bercinta yang kasmaran kamu kembali duduk menyudut setelah makan dan minum di kantin pelepas dahagaterdengar langkah lembut menuruni anak tangga kemudian disusul wujud yang kamu perhatikan tadi pagi
“astaga!!! makhluk apa ini sebenarnya?”
penasaranmu terlalu berencana untuk mengenalnya lebih. lebih dan lebih dari yang nampak padamukamu bertanya kepadaku yang duduk tepat di sampingmu
“siapakah wanita itu?”
lonceng berdering keras memotong pertanyaamu isyaratkan kami harus segera menyelesaikan istirahat ini dan melupakan pertanyaamu tadikami selalu duduk bersebelahankamu menaruh pandanganmu pada sebuah jendela bening yang terbayang hanyalah dia. dia yang kamu kagumi sedari tadi. sedari tadi yang mengganggu pikiranmu untuk memfokuskan diri memandang pelajaran dalam papan tulis bertinta hitam
“apa yang kamu bayangkan?”tegur sapaku menanyakan tentang keadaannya
dengan pandangan kosong. Ia tersenyum sambil berkata“aku memikirkan dia. dia wanita yang ku lihat di setiap ku menyudut”
*****
dinding tempatmu menyudut begitu terasa dingin yang terlihat memang begitu dingin karena hujan selalu turun menghujam beberapa hari ini setiap pagi aku masih melihatmu menantikan sosok yang kamu bilang indah. sosok yang selalu mengalihkan pandanganmu. sosok yang tak kamu ketahui siapa namanya karena kamu terlalu malu atau bahkan terlalu munafik untuk sekadar menyapanyayang kulihat dirinya memang begitu cantik dengan senyum manis dan rambut hitam yang tergerai warna tubuhnya pun putih beras Jepang tanpa noda dengan dua buah bola mata yang indah berbinar-binaryang terasa kamu memang cinta padanya namun dirimu hanya berani untuk menyudut tanpa mampu keluar dari tempat persembunyianmu ituyang terdengar kamu memang menyukainya namun hanya disudut itulah tempatmu memendam sukamu dalam diamyang terlihat memang indah senyum dari dirinya namun hanya mampu kamu lihat dari sudutmu yang penuh ilusi
Inilah ruang sudutmu yang tidak terlalu sempurna untuk memandang keindahan wanita seperti dirinya...
| Add caption |
.jpg)
.jpg)
.jpg)