malam begitu dingin menyelimuti
kaki ini seakan tak mampu lagi menopang tubuh
kami berjalan menyusuri Jalan menuju stasiun kereta
langkah kaki kami sudah berjalan sepanjang ini
dirimu melangkah dengan ransel yang kau bawa di punggungmu
entah apa yang kamu bawa dalam ranselmu, tapi yang ku lihat itu begitu berat
hidup ini seperti Jalan ber-aspal, mulus ketika kamu sentuh dengan terbangun kasar ketika kamu sentuh dengan terjatuh
remang lampu kota menemani langkah kami walau sesungguhnya bulan telah menerangi kami
*****
kamu seperti begitu letih yang kulihat
langkahmu tertatih seakan tak mampu mengimbangi langkahku yang terbiasa berjalan jauh
aku memaklumi lelaki seperti kamu mana kuat berjalan sepanjang ini
“kakimu letih berjalan seperti ini?”
“tidak, apakah masih jauh stasiunnya?”
“mungkin 500 meter lagi dari sini”
“astaga!!!”
“kenapa? kamu tak sanggup”
“aku sanggup sanggup, sudah biasa jalan seperti ini”
kamu berkata begitu tetapi raut wajahmu berbeda dari yang kamu katakan
*****
mataku terperanjak pada pembatas jalan yang berwana hitam putih lambangkan kebenaran atau kesalahan
terkadang tinggi terkadang rendah menggambarkan kehidupan terkadang di atas terkadang dibawah berputar bagai roda kendaraan yang berlalu lalang di sekitar kami
hidup ialah roda kendaraan yang harus dikendalikan, ketika dikendalikan dengan teliti roda itu akan menghantarkan pada pemberhentian yang sempurna seperti yang diharapkan tetapi ketika dikendalikan dengan lalai roda itu akan menghantarkan pada pemberhentian yang tidak sempurna dan itu jelas tidak diinginkan oleh siapapun
kamu masih terlalu cepat untuk langkahku
perempuan itu memang membuatku gila dengan membawaku jalan sejauh ini
tetapi sudahlah...aku nikmati saja setiap langkahnya
aku mencoba mengiringi laju kakimu namun tetap kakiku tak mampu mengimbangi kakimu yang sangat sangat hebat
kini jalan membentang ke segala arah
bagaikan empat mata penjuru yang membuat langkahku terhenti dan memaksaku mengingat kembali jalan yang seharusnya
lelaki ini sudah cukup lelah aku bawa sampai sepanjang ini hingga ia menggantungkan pertanyaan kepadaku akibat langkahku yang terhenti
“kenapa berhenti?”
“tidak apa-apa, aku lupa jalan yang harus dilewati”
“astaga, sudah sejauh ini baru kamu bilang lupa!!!”
“maaf!!! aku kan manusia wajarlah punya pikiran lupa”
“seperti nenek nenek kamu” lelaki itu mengejekku dengan lidah yang menjulur keluar
*****
kini kamu telah sampai persimpangan jalan
persimpangan yang membuat kamu harus berpikir keras kemana langkah ini seharusnya berjalan
karena hidup harus terus berjalan tidak stagnasi di waktu ini dan tidak untuk kembali lagi ke bangsal masa lalu
aku melakukan pereggangan lurus sempurna
kaki mulai terasa letih untuk berdiri menopang tubuh
aku menghela nafas mengatur irama detak jantung yang terpompa cepat selama perjalanan tadi
“Ayo kemana kita harus melangkah?”
“Ikuti langkahku!” Jawab perempuan itu lantang
Tubuhmu mulai kembali melangkah dan aku pun mengikuti langkahmu dari belakang mengamati ransel di punggungmu
*****
aku mencoba mengulang kembali jalan yang pernah aku tapaki dengannya
jalan yang membawaku pada rekaman kisah masalalu yang begitu kelam
pikiranku masih ter-ngiang tentang bayangnya
sebenarnya aku tidak lupa akan jalan ini dan tempat yang akan aku tuju denganmu
aku hanya tidak mampu menahan ingatanku bersamanya di sepanjang jalan ini
*****
lelaki ini sudah teramat lelah
kamu hanya mampu menggumam tanpa kata karena sekujur tubuhmu kini dihinggapi rasa letih
setibanya kami di stasiun itu, kami menunggu kehadiran kereta
menunggu hanya butuh waktu~
menunggu hanya butuh sabar~
menunggu hanya butuh ikhlas~
menunggu hanya bisa berharap~
menunggu hanya bisa berdiam~
hanya kata-kata itu yang menjalar di sekitar otakku ketika menunggu
*****
“tik tok tik tok”
waktu pada dinding stasiun mengayun dengan indah menaruh tubuhku pada sebuah epilog
malam mulai menghujamku dan melumuriku dengan lelah tanpa sadar
kereta pun datang dengan sinar harapan
yang siap menghantarkanku pada pemberhentian yang sempurna untuk aku mulai kembali bermimpi...
kaki ini seakan tak mampu lagi menopang tubuh
kami berjalan menyusuri Jalan menuju stasiun kereta
langkah kaki kami sudah berjalan sepanjang ini
dirimu melangkah dengan ransel yang kau bawa di punggungmu
entah apa yang kamu bawa dalam ranselmu, tapi yang ku lihat itu begitu berat
hidup ini seperti Jalan ber-aspal, mulus ketika kamu sentuh dengan terbangun kasar ketika kamu sentuh dengan terjatuh
remang lampu kota menemani langkah kami walau sesungguhnya bulan telah menerangi kami
*****
kamu seperti begitu letih yang kulihat
langkahmu tertatih seakan tak mampu mengimbangi langkahku yang terbiasa berjalan jauh
aku memaklumi lelaki seperti kamu mana kuat berjalan sepanjang ini
“kakimu letih berjalan seperti ini?”
“tidak, apakah masih jauh stasiunnya?”
“mungkin 500 meter lagi dari sini”
“astaga!!!”
“kenapa? kamu tak sanggup”
“aku sanggup sanggup, sudah biasa jalan seperti ini”
kamu berkata begitu tetapi raut wajahmu berbeda dari yang kamu katakan
*****
mataku terperanjak pada pembatas jalan yang berwana hitam putih lambangkan kebenaran atau kesalahan
terkadang tinggi terkadang rendah menggambarkan kehidupan terkadang di atas terkadang dibawah berputar bagai roda kendaraan yang berlalu lalang di sekitar kami
hidup ialah roda kendaraan yang harus dikendalikan, ketika dikendalikan dengan teliti roda itu akan menghantarkan pada pemberhentian yang sempurna seperti yang diharapkan tetapi ketika dikendalikan dengan lalai roda itu akan menghantarkan pada pemberhentian yang tidak sempurna dan itu jelas tidak diinginkan oleh siapapun
kamu masih terlalu cepat untuk langkahku
perempuan itu memang membuatku gila dengan membawaku jalan sejauh ini
tetapi sudahlah...aku nikmati saja setiap langkahnya
aku mencoba mengiringi laju kakimu namun tetap kakiku tak mampu mengimbangi kakimu yang sangat sangat hebat
kini jalan membentang ke segala arah
bagaikan empat mata penjuru yang membuat langkahku terhenti dan memaksaku mengingat kembali jalan yang seharusnya
lelaki ini sudah cukup lelah aku bawa sampai sepanjang ini hingga ia menggantungkan pertanyaan kepadaku akibat langkahku yang terhenti
“kenapa berhenti?”
“tidak apa-apa, aku lupa jalan yang harus dilewati”
“astaga, sudah sejauh ini baru kamu bilang lupa!!!”
“maaf!!! aku kan manusia wajarlah punya pikiran lupa”
“seperti nenek nenek kamu” lelaki itu mengejekku dengan lidah yang menjulur keluar
*****
kini kamu telah sampai persimpangan jalan
persimpangan yang membuat kamu harus berpikir keras kemana langkah ini seharusnya berjalan
karena hidup harus terus berjalan tidak stagnasi di waktu ini dan tidak untuk kembali lagi ke bangsal masa lalu
aku melakukan pereggangan lurus sempurna
kaki mulai terasa letih untuk berdiri menopang tubuh
aku menghela nafas mengatur irama detak jantung yang terpompa cepat selama perjalanan tadi
“Ayo kemana kita harus melangkah?”
“Ikuti langkahku!” Jawab perempuan itu lantang
Tubuhmu mulai kembali melangkah dan aku pun mengikuti langkahmu dari belakang mengamati ransel di punggungmu
*****
aku mencoba mengulang kembali jalan yang pernah aku tapaki dengannya
jalan yang membawaku pada rekaman kisah masalalu yang begitu kelam
pikiranku masih ter-ngiang tentang bayangnya
sebenarnya aku tidak lupa akan jalan ini dan tempat yang akan aku tuju denganmu
aku hanya tidak mampu menahan ingatanku bersamanya di sepanjang jalan ini
aku pun kembali ke bangsal masa lalu ku...
*****
kaki ini sudah terlalu jauh melangkah dari tempat dimana langkah ini bermula
namun tujuan kami belum tertemukan
aku kembali menggantungkan pertanyaan kepada perempuan ini
“masih jauh? apa kamu benar benar ingat jalannya?”
“tidak jauh di persimpangan itu nanti kita belok kanan”
baiklah...aku menyaksikan persimpangan itu dan letaknya pun tidak terlalu jauh dari tempatku melangkah
*****
kaki ini sudah terlalu jauh melangkah dari tempat dimana langkah ini bermula
namun tujuan kami belum tertemukan
aku kembali menggantungkan pertanyaan kepada perempuan ini
“masih jauh? apa kamu benar benar ingat jalannya?”
“tidak jauh di persimpangan itu nanti kita belok kanan”
baiklah...aku menyaksikan persimpangan itu dan letaknya pun tidak terlalu jauh dari tempatku melangkah
*****
lelaki ini sudah teramat lelah
kamu hanya mampu menggumam tanpa kata karena sekujur tubuhmu kini dihinggapi rasa letih
setibanya kami di stasiun itu, kami menunggu kehadiran kereta
menunggu hanya butuh waktu~
menunggu hanya butuh sabar~
menunggu hanya butuh ikhlas~
menunggu hanya bisa berharap~
menunggu hanya bisa berdiam~
hanya kata-kata itu yang menjalar di sekitar otakku ketika menunggu
*****
“tik tok tik tok”
waktu pada dinding stasiun mengayun dengan indah menaruh tubuhku pada sebuah epilog
malam mulai menghujamku dan melumuriku dengan lelah tanpa sadar
kereta pun datang dengan sinar harapan
yang siap menghantarkanku pada pemberhentian yang sempurna untuk aku mulai kembali bermimpi...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar