menunggu, mengaitkan harapan dengan waktu
entah kapan bis jurusan blok m itu akan tiba
yang jelas aku masih menanti kehadiran bis itu di halte Harmoni
aku melihat seorang wanita bergerak di antara kerumunan seakan hanya aku yang terdiam mengembangkan senyum melihatnya
Ia melangkah lembut diantara kasarnya langkah yang kudengar
“anggun” begitulah celetukku
Ia melangkah seperti peri cantik dengan rambutnya yang semampai
ku perhatikan lagi lagi dan lagi ternyata ia berjalan menuju halte
“astaga!!! Ia menghampiriku”
terdengar percaya diri namun itulah harapan
ku perhatikan setiap langkah demi langkah yang akhirnya terhenti di sebuah bangku halte yang sesak terpenuhi para penunggu. karena halte memang tempat untuk menunggu
aku yang berdiri menunggu bis sedari tadi melihat wanita itu seakan ingin duduk. duduk dimana?
entah kapan bis jurusan blok m itu akan tiba
yang jelas aku masih menanti kehadiran bis itu di halte Harmoni
aku melihat seorang wanita bergerak di antara kerumunan seakan hanya aku yang terdiam mengembangkan senyum melihatnya
Ia melangkah lembut diantara kasarnya langkah yang kudengar
“anggun” begitulah celetukku
Ia melangkah seperti peri cantik dengan rambutnya yang semampai
ku perhatikan lagi lagi dan lagi ternyata ia berjalan menuju halte
“astaga!!! Ia menghampiriku”
terdengar percaya diri namun itulah harapan
ku perhatikan setiap langkah demi langkah yang akhirnya terhenti di sebuah bangku halte yang sesak terpenuhi para penunggu. karena halte memang tempat untuk menunggu
aku yang berdiri menunggu bis sedari tadi melihat wanita itu seakan ingin duduk. duduk dimana?
yaa tepat....duduk disamping wanita itu tentunya
tetapi lihatlah bangku terpenuhi
“lalu bagaimana aku bisa duduk?” otakku berpikir keras
kemudian terbesit kata “menunggu”
menunggu, momentum yang tepat untuk mengenalnya lebih lanjut
“astaga!!!” tersadar ternyata aku menunggu dua hal
menunggu kedatangan bis dan menunggu untuk bisa mendekat kepada wanita itu
*****
selang beberapa waktu kemudian bangku itu hampir benar benar kosong hanya ada dia
langkah kecilku mulai merapat menuju bangku panjang
“permisi!bolehkah saya duduk disini?”
“silahkan” wanita itu membalas dengan senyum manis
kini aku duduk tepat disampingnya
“astaga!!!” Jantung ini mulai meletup-letup berada didekatnya
gelombang frekuensi untuk mengenalnya seakan tak tertahan gerak tubuhku yang mulai salah tingkah
hingga pada akhirnya mulut pun berbicara
“kalau boleh tahu kamu nunggu apa? aku perhatikan bis sudah lewat semua”
“aku nunggu seseorang, kamu sendiri nunggu apa?”
*****
tetapi lihatlah bangku terpenuhi
“lalu bagaimana aku bisa duduk?” otakku berpikir keras
kemudian terbesit kata “menunggu”
menunggu, momentum yang tepat untuk mengenalnya lebih lanjut
“astaga!!!” tersadar ternyata aku menunggu dua hal
menunggu kedatangan bis dan menunggu untuk bisa mendekat kepada wanita itu
*****
selang beberapa waktu kemudian bangku itu hampir benar benar kosong hanya ada dia
langkah kecilku mulai merapat menuju bangku panjang
“permisi!bolehkah saya duduk disini?”
“silahkan” wanita itu membalas dengan senyum manis
kini aku duduk tepat disampingnya
“astaga!!!” Jantung ini mulai meletup-letup berada didekatnya
gelombang frekuensi untuk mengenalnya seakan tak tertahan gerak tubuhku yang mulai salah tingkah
hingga pada akhirnya mulut pun berbicara
“kalau boleh tahu kamu nunggu apa? aku perhatikan bis sudah lewat semua”
“aku nunggu seseorang, kamu sendiri nunggu apa?”
*****
![]() |
| Add caption |
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar