4/06/2014

Bangku Usang


Bangku usang itu pernah berkata kepadamu, bahwa aku mencintaimu.

Ukirannya masih tetap sama, hanya waktu yang menemani-nya kala itu tidak lagi disana. Entah kemana, tetapi waktu telah menggiring-ku hingga kini.

Bangku usang itu pernah bercerita kepadaku, bahwa kamu juga mencintaiku.

Retaknya pun masih sama ketika ia bertutur kepadaku, hanya kamu yang aku cinta tidak lagi bersama-ku.Entah mengapa, tetapi kamu terindah hingga kini.

Bangku usang itu kini bersedih, Ia meneteskan air dari mata. Ia memaki tubuhku bahkan ia sempat memarahkan-mu. Ia bertanya ; “Mengapa harus ada perpisahan?”

. Aku melihat-nya-Aku melihatmu.


Masih terlalu hangat melekat. Jemarimu masih jelas menapak di telapak tanganku. Tanda kelahiran di tanganmu bahkan masih ku-hafal setiap bentuknya. Nama-mu belum runtuh, masih berdiri megah layaknya istana permaisuri-ku. Serdadu yang kutemui dalam peperangan hanya mampu melepaskan senyum. Panahnya tumpul. Namun mata-mata yang menghiasiku itu mampu membiusku, tatapan-nya sama seperti kamu menatapku. Sangat dalam. Ada sesuatu yang Ia selami di tubuhku, seperti waktu kamu menyelami-ku.Sangat dalam. Entah apa yang Ia selami dariku. Aku melihat-nya.Aku merasa melihatmu.