Masih terlalu hangat melekat. Jemarimu masih jelas menapak
di telapak tanganku. Tanda kelahiran di tanganmu bahkan masih ku-hafal setiap
bentuknya. Nama-mu belum runtuh, masih berdiri megah layaknya istana
permaisuri-ku. Serdadu yang kutemui dalam peperangan hanya mampu melepaskan
senyum. Panahnya tumpul. Namun mata-mata yang menghiasiku itu mampu membiusku,
tatapan-nya sama seperti kamu menatapku. Sangat dalam. Ada sesuatu yang Ia selami
di tubuhku, seperti waktu kamu menyelami-ku.Sangat dalam. Entah apa yang Ia
selami dariku. Aku melihat-nya.Aku merasa melihatmu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar