Bangku usang itu pernah berkata kepadamu, bahwa aku
mencintaimu.
Ukirannya masih tetap sama, hanya waktu yang menemani-nya
kala itu tidak lagi disana. Entah kemana, tetapi waktu telah menggiring-ku
hingga kini.
Bangku usang itu pernah bercerita kepadaku, bahwa kamu juga
mencintaiku.
Retaknya pun masih sama ketika ia bertutur kepadaku, hanya kamu
yang aku cinta tidak lagi bersama-ku.Entah mengapa, tetapi kamu terindah hingga
kini.
Bangku usang itu kini bersedih, Ia meneteskan air dari
mata. Ia memaki tubuhku bahkan ia sempat memarahkan-mu. Ia bertanya ; “Mengapa
harus ada perpisahan?”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar