8/01/2013

BUKU KATA

Maaf. Aku membaringkanmu di atas lantai. Dingin sekali. Aku merasakan itu
Tubuhmu kini usang lemah tak berdaya, namun sungguh berharga
Lembaranmu kini telah rapuh, berhamburan namun tetap terjaga
Di dalamnya aku memahami kata demi kata yang sesungguhnya tak aku pahami arti maupun maknanya sebelum aku mengenalmu
Di bagian luar tubuhmu menemui tulisan 
“Dilengkapi Pedoman Umum 
Ejaan Bahasa Yang Disempurnakan” yang tertera demikian
aku hanya menggambarkannya, terserah menurut kalian beranggapan lain atau tidak, tetapi menurutku anggapan ini kamus 

“Maafkan aku ayah! Aku tak bisa menjaga baik pemberianmu”

Kamus ini pemberian ayahku ketika aku masih mengenyam pendidikan bangku sekolah dasar. Aku masih ingat bagaimana ia memberikannya padaku

“Ayah punya hadiah untukmu” sambil menjulurkan kamus itu padaku
“apa ini ayah?” 
“itu kamus, nak”
“kamus itu apa yah? Apa guna-nya kamus itu?”
“kamu nanti akan mengetahuinya, bacalah!” Teka-teki macam apa ini yang diberikan ayah padaku 

Dahulu aku tak mengenal apa itu kamus. Untuk apa gunanya. Tersirat ingin membuangnya di tempat sampah karena aku ber-anggapan tidak ada guna-nya namun aku berpikir kembali ini pemberian ayah. Ayah memberikannya padaku pasti ada maksudnya
walaupun aku belum mengetahui apa maksudnya

Lalu pertanyaan tadi aku limpahkan kepada Ibu karena ayah hanya membuatku penasaran. Menyebalkan
“Ibu kamus bahasa itu apa? Apa guna-nya kamus itu?”
“kamus adalah buku yang berisi keterangan tentang kata-kata, nak. Guna-nya untuk mengenal atau memahami makna kata”

Akhirnya penasaranku tertumpahkan dengan jawaban ibu. Jawaban ibu yang cerdas menurutku karena beliau ibuku 
mungkin itu alasan mengapa ayah memberikan kamus ini padaku, agar aku mampu memahami atau mengenal kata 
Dan sejak itu aku gemar membaca walaupun hanya membaca kamus namun itu cukuplah untuk perbendaharaan kata

Dengan kamus ini aku mampu mengenal kata tidak sebatas huruf ataupun angka
Dengan kamu ini aku memulai tulisanku
Dan dengan kamus ini aku mempunyai teman untuk aku bercerita

walau kini tubuhmu usang, lemah tak berdaya namun kau sungguh berharga
walau kini lembarmu rapuh, berhamburan namun kau tetap terjaga