2/06/2014

ANOMALI

Ia menetes seperti pisau menikam tubuh gagahku.
Ia menerpa selayaknya serpihan kaca menghantam wajahku dengan penuh amarah, entah dendam~ entah amarah... aku pun tidak tahu buih hatinya.
Entah siapa yang bodoh, tetapi mataku selalu terbuai tipu muslihat keji dirinya.
Hadir dengan segenggam madu rindu, pergi meninggalkan sebongkah racun pilu.
Aku Perkasa. Pecundang yang tersisa.

Anomali...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar