10/02/2013

Hitam Susu

Aku menyelami hitam pekat malam dengan tubuhmu yang hangat,
bibirku dan bibirmu bertemu dalam satu malam pekat.
Aku teguk hitam susu yang mengalir di celah bibirmu,
hitam putih diantara bening bibirmu dan merah bibirku.
Hangat...Sangat hangat,
hingga beban ini terlalu mengikat.
Kamu mulai menyengat,
membuat lidahku mengerenyit dan mengeringat.

Bibir beningmu sangat basah setelah ku teguk.
Tubuh beningmu terlihat hitam putih yang mengangguk,
seperti menagih untuk kembali ku teguk.

Dingin membuat bintang terlihat mengkerut,
ku saksikan kabar berita duka "korupsi" lewat layar lebar bergambar mulut.
Kembali, ku teguk hitam susu yang ku buat,
malam semakin malam semakin larut,
hitam susu terlalu nikmat untuk malam pekat.
Ini negeri yang carut marut,
semua hanya urusan perut.
Pendidikan, kemiskinan, kelaparan hanya menjadi kemelut.
Sesat...Sangat sesat

Terang di timur kembali berada di ufuk.
Gelap malam mulai merajuk,
embun pagi pada daun mulai masuk menusuk tulang rusuk.
Ku teguk hitam susu yang tinggal setetes,
ku hirup semua masuk.
Ironis-nya...Kabar busuk itu belum juga hilang dalam ingatan,
hanya berganti parodi pejabat blusuk-an.
Lucu...Sangat lucu

Ketawa terbahak-bahakan...

Add caption


Tidak ada komentar:

Posting Komentar